Langsung ke konten utama

Postingan

Virgo dan Hujan di Bulan Januari

copyright pexels.com Dia adalah Virgo. Wanita dengan senyum yang selalu ia sembunyikan di balik masker.Ia membenci kamera, tidak seperti kebanyakan orang yang begitu memuja kamera. Ia suka bercerita, mungkin untuk membuang gugup atau membentengi agar tidak jatuh cinta kepada seseorang yang tidak tepat. Mungkin itu caranya untuk bertahan. Januari bertanya tentang bagaimana perasaan Virgo siang itu, saat Januari sedang mengikuti meeting di kantor pusat yang kebetulan kota yang sama tempat Virgo tinggal beberapa bulan ini. "Kita bagaimana?" Virgo tidak menjawab. Ia memilih menghilang, membiarkan telpon dari Januari berhenti tanpa jawaban. Puluhan pesan ia biarkan menggantung tanpa balas. Bukan Virgo tidak mencintai laki-laki itu. Ia hanya merasa Januari tidak pernah mencintainya dengan tulus. Virgo merasa ada yang berbeda dengan Januari. Ia tak lagi sama dengan yang Virgo kenal beberapa tahun lalu. Virgo hanya takut kecewa, kepada Januari yang kerap datang kala ...

Sebelum Menikah Pastikan Kamu Sanggup Meminta Maaf

Pernikahan/copyright pexels.com Apa tanda kamu sudah siap menikah? Saat kamu sudah sanggup meminta maaf untuk hal yang sepele. Saat kamu sanggup meminta maaf untuk hal yang sebenarnya tidak kamu lakukan. Saat kamu merendahkan egomu lalu meminta maaf. Well, tema pernikahan sepertinya lagi hangat diperbincangkan. Adalah teman saya chatnya muncul di tengah malam. Katanya, sibuk gak? Hmm, firasat tidak enak mungkin firasat diprospek MLM cukup membuat saya merasa tidak nyaman saat harus menerima chat dari teman lama. Ternyata malam itu, teman saya sedang butuh telinga. Ia ingin curhat. Perbincangan yang awalnya lewat chat whatsapp berlanjut ke telpon. Ia menelpon lama sekali, awal saya mendengar suaranya cukup jelas namun lama-lama berubah serak. Ia menangis. Ia menangisi mantannya yang besok kabarnya akan menikah. Hmm, ya kalau sudahjadi mantan kenapa menangis? Usut punya usut, ternyata hubungan mereka belum selesai. Ada masalah yang menggantung. Ya, meskipun saya melihatn...

Terima Kasih Twitter, Kamu Membuat Saya Tetap Waras

copyright pexels Jika ada ajang award untuk pemilihan sosial media paling baik, maka saya akan memilih twitter. Mengapa demikian? Platform dengan logo burung ini memang favorite saya sejak tahun 2009. Tempat saya nyampah, tentu saja selain di blog ini. Twitter selalu menyenangkan bagi saya. Ketika banyak orang berpindah ke Path saya tetap bertahan di sini. Ketika semua orang sibuk memperbaiki feed instagram, saya masih setia dengan si 'burung' ini. Iya, karena twitter membantu saya tetap waras. Bahkan, ketika tahun 2013 saat saya memutuskan untuk deactivated akun perihujan_ pun hanya bertahan beberapa bulan saja. Saya kembali membuat akun baru dan beruntung perihujan_ kembali menjadi milik saya kembali. Hahaha. Twitter membuat saya tetap waras. Ketika banyak orang menganggap remeh orang-orang yang memilih curhat di sosial media. Katanya; "kurang perhatian ya?" Tidak selamanya twit super galau dan mengenaskan yang saya tulis adalah isi hati saya. B...

Sampai Kapan?

Sampai kapan? Ia bertanya untuk kesekian kali, saat menelpon saya dalam perjalanan pulang. Ia adalah satu-satunya orang yang mengerti alasan mengapa saya memilih untuk menepi. Satu-satunya orang yang tahu benar alasan mengapa saya ke Jogja beberapa minggu lalu. Ia satu-satunya yang paham bahwa tawa yang selama ini saya perlihatkan hanya palsu. Ia tahu saya sedang tidak baik-baik saja. Sampai kapan? Ulangnya, ketika kemarin saya terbata menangis untuk kesekian kalinya. Ia bilang, seharusnya saya bahagia. Seharusnya saya baik-baik saja. Seharusnya saya belajar menyederhanakan keadaan. Sampai kapan? Sampai ia mengucap maaf, tapi sekali lagi saya bukan manusia bijak yang disakiti berkali-kali dapat segera melupa. Saya adalah pengingat yang handal. Sampai kapan? Maaf, saya sudah lupa cara memberi maaf. Ruang Tunggu RSKM, 23 Oktober 2017

Maaf Sayang, Aku Ingin Terlihat Cantik di Matamu

Cantik/copyright pexels.com Ih, kamu enggak pantas pakai baju model begitu. Hahaha...itu alis apa ulet bulu. Habis minum darah neng? Kebanyakan gaya kamu, pakai make up segala. Muka gitu aja, enggak perlu di apa-apain. Gak bikin kamu tambah cantik. Ih, dasar kebanyakan gaya. Sering mendengar kalimat tersebut? Saya sering, berada di lingkungan yang didominasi banyak wanita tidak membuat saya dikelilingi oleh orang yang lebih paham wanita. Yah, justru mereka ini yang paling gencar membicarakan kelemahan kaumnya. Paling jago nyinyirnya. Miris? Jelas. Ada yang salah dengan wanita yang ingin terlihat cantik? Sepertinya menjadi pesakitan ketika seseorang berusaha meratakan alisnya. Sepertinya menjadi sah dicaci maki ketika seseorang memoles bedak yang tebal dan wajahnya terlihat lebih putih dibanding lehernya. Duh, jadi wanita yang ingin cantik memang tidak mudah. Well, sayangnya yang gemar merendahkan ini kebanyakan dari kaumnya sendiri. Wanita. Coba saja liha...

Tentang Memaafkan

Lebaran sudah seminggu berlalu, apa yang saya dapatkan? Banyak hal yang terjadi beberapa bulan ini. Sakit hati, kecewa dan tangis. Hingga sempat membuat saya berpikir, sampai kapan ini akan terjadi? Emosi ternyata membuat saya tidak sempat berpikir tentang kebahagiaan. Amarah ternyata mengikis logika saya. Namun, beruntungnya saya memiliki orang-orang baik yang setia saat saya terpuruk. Hingga saya dapat menepis ego hingga titik terendah. Adalah malam takbir kemarin, saya benar-benar menangis. Saya tidak pernah merasa sengilu ini saat malam takbir. Saya menangis hebat. Mengingat apa yang telah saya lakukan beberapa bulan lalu. Ternyata semua sia-sia, seharusnya saya tidak menuruti emosi. Amarah tidak akan membuat segalanya menjadi baik, justru menjadikannya abu. Sakit hati saya luruh. Dalam hati saya berjanji ini airmata terakhir saya untuk kebodohan ini. Saya berjanji ini amarah terakhir saya. Memaafkan memang tidak mudah. Melupakan tidak ada yang mudah. Menerima...

Selamat Ulang Tahun

copyright pexels.com "Selamat ulang tahun," bisikku tepat jam menunjuk pukul dua belas malam. Lilin yang berada di atas kue ulang tahun dengan ukiran namamu menyala terang. Wajahmu terlihat tampan malam ini, dari balik siluet cahaya lilin. Aku mengusap tulang pipimu pelan. Lalu tersenyum. "Selamat ulang tahun," ulangku, kali ini lebih pelan. Aku melihat senyummu. Aku mengamatinya, menyimpannya dalam setiap sel otakku. Takut jika ulang tahun berikutnya aku tak lagi bersamamu. Bukankah ketakutan terbesarku adalah kehilanganmu. "Selamat ulang tahun," Kali ini aku tidak melihat senyummu, hanya tangis tertahan saat kedua tanganku menancapkan pisau tepat di dada wanita yang kamu nikahi lima tahun lalu. Tanganku lincah mencukil kedua bola matanya. Bola mata yang kamu agungkan di belakangku. Bola mata yang membuatmu tak lagi melihatku. "Selamat ulang tahun dan terima kado sepasang mata yang kamu puja di belakangku ini." ...