Langsung ke konten utama

Postingan

Jatuh cinta itu (?)

Waktu menulis postingan ini saya baru saja melepas kepergian seorang teman untuk bertemu pacarnya (MELEPAS). Yeah, si teman seorang cewek paruh baya yang sempat menjadi barisan terdepan untuk menolak saya lanjut dengan pacar yang berakhir mantan (stop curhatnya). Iya, setiap minggu sang teman bertemu pacarnya, setelah sekian minggu saya akhirnya bertanya. "Loh, gak dijemput lagi?"  Si teman hanya menggeleng, "Kalau menuruti rewel minta di jemput gak bakalan ketemu. Iya kalau pacaran jaman dulu, nunggu di jemput." Saya hanya manggut, mungkin si teman membatin, nih bocah riwil banget sih. Sudah jomblo jangan banyak protes sama orang yang mau pergi pacaran. Okay, fine *nenggak kolak* Mungkin topik, orang pacaran, jatuh cinta, lagi sayang-sayangan, lagi prepare mau menikah adalah topik sensitif buat saya akhir-akhir ini. Iya, patah hati membuat saya sedikit rapuh jika bersinggungan dengan hal ini.  Balik ke topik... Saya jadi ingat kejadian awal saya pacara...

Break Up.

Fase paling nelangsa dari jatuh cinta adalah patah hati. Putus saat masih cinta-cintanya, berhenti untuk tak peduli disaat sayang-sayangnya. Membiasakan diri untuk tak bertukar kabar, padahal memberi tahu keadaan masing-masing adalah rutinitas. Berubah menjadi asing. Lover to be stranger. Dan dari cerita manis yang sering menghiasi hari-hari, berubah menjadi sepi. Yeah, I am Break Up. Awal putus, betapa sepi hidup ini. Berusaha nampak baik-baik saja malah semakin membuat saya semakin kacau, semakin kehilangan arah. Saat memutuskan untuk berpisah, saya lupa berapa liter air mata yang saya tumpahkan waktu itu. Entah, menangisi apa. Tapi bagi saya, setelah sekian tahun bersama dan akhirnya memutuskan untuk berhenti itu ngilunya luar biasa. Apa yang bisa saya lakukan untuk lupa? Saya melakukan perjalanan ala #Traveloveing berharap ketika saya pulang saya dapat kembali biasa saja. Berharap saya dapat melupakan semua kenangan saat bersamanya. Nyatanya? NOL. Justru saat saya melaku...

Kentjan Surabaya ~ Bagian Satu

Hati patah kaki melangkah ~ Traveloveing. Jadi kemarin tanggal 8 juni 2014 kesampaian juga melakukan ritual kentjan seperti yang sering  Mput  dan  Bella  lakukan. Kalau duo teman maya saya ini memakai tagline #kentjanjakarta maka saya memakai tagline #kentajnsurabaya \o/ Cak Durasim - Pusat budaya di Surabaya, tujuan terakhir dari Tour Surabaya Heritage Track. #Kentjansurabaya edisi perdana kali ini adalah berkunjung ke House of Sampoerna. Museum yang terletak di Jalan Taman Sampoerna 6, Surabaya. Ada apa disana? selain spot yang kece buat narsis, Surabaya Herritage Track adalah alasan utama saya berkunjung ke Museum ini. House of Sampoerna selanjutnya akan saya sebut HoS adalah Traveller's Choice 2013 oleh TripAdvisor. Jujur saja, saya benar-benar terkesima (halah bahasanya) dengan pengelolaan HoS ini. Bagaimana tidak, semua fasilitas yang ada di HoS diberikan secara gratis kepada semua pengunjung HoS. Museum yang buka setiap hari pukul 0...

Jika Saja.

Tak ada yang kebetulan? Saya adalah termasuk manusia yang paling kuekeh dengan yang namanya takdir. Sampai pada satu titik saya pun menangisi apa yang Tuhan takdirkan untuk saya, iya apalagi kalau bukan perkara kehilangan. Entah, sampai saya menulis ini saya masih bertanya-tanya apa maksud Tuhan mempertemukan saya bersama dia. Meski sampai akhir pertemuan kami tetap menyebut kita. Jika sajaTuhan tak pernah menautkan takdir pada kami berdua, apakah saya mampu memaknai kehilangan ini? Jika saja Tuhan tak pernah menjatuhkan hati kami pada rasa yang sama, apakah saya mampu memaknai apa itu cinta yang sebenarnya? Jika saja.... Boleh saya katakan, kamu adalah jika yang spesial buat saya. Sampai kapan pun. You'll my favorite if :) Dedicated to my Mr. A Pasuruan, 19 Mei 2014.

(Akhir) Maret.

Hari ini dia berjanji untuk mewujudkan mimpi yang selama ini menguap di dinding dan udara tempat kita mengadu rindu -- Aku sedang memutar-mutar kotak persegi berwarna merah maroon itu malam ini, katamu warna yang menandakan adanya diriku. Kamu tahu, hari ini adalah penghujung Maret yang dua minggu lalu kau katakan adalah hari dimana segala keraguan tentang apa yang kita sebut cinta akan berakhir. Katamu, hari ini adalah bukti tak ada yang sia-sia dari sebuah cinta. Seharusnya kamu tahu, aku telah banyak belajar dari segala hal dan bentuk kehilangan itu. Seharusnya kamu pun tahu betapa lelahnya aku mencari pembenaran atas kata cinta. Saat Tuhan memilih kita untuk bertemu pada satu lintasan takdir, aku tahu Tuhan menjawab segala doaku. Kamu. Dan kini, ketika semua berbeda kamu yang tiba-tiba pergi menyadarkanku satu hal. Mungkin benar, yang menjadi jodoh kita bukanlah orang yang benar-benar kita cintai. Karena kamu pun tahu, kamu pergi saat tepat aku jatuh cinta padamu, tepat sa...

Pindah.

Seminggu ini saya sibuk mengepak semua barang-barang yang di kos, dan tadi baru menyadari ternyata barang-barang saya (cukup) banyak. Semalam, sepulang kantor saya ngobrol bersama Mbak Murti tentang masalah pindah dan banyaknya barang yang harus diangkut esok hari. Kardus dan tas yang sesak berjejer di ruang tengah. Pindah, akhirnya setelah tiga tahun tinggal di Nusantara kami memutuskan untuk pindah. Tempat yang kami sebut rumahnya Bidadari \o/ Malam ini saya memandang kamar kos, kosong. Iya, semua barang sudah diangkut tadi pagi seharian saya bersama Mbak Murti sibuk menata semua barang-barang di sana agar nyaman untuk kami tinggali nanti.  Nyaman? ah, saya jadi ingat dengan hati saya. Mungkin benar saya harus pergi dan 'pindah' dari hati yang lama karena ia terlalu sempit sehingga membuat saya susah untuk bernafas? Atau saya tak lagi nyaman. Banyak alasan untuk pembenaran atas pindah. Sempit, tak lagi nyaman, sesak dan tak lagi cocok. Sesederhana itu, mungkin saya sudah...

7 Maret-ku

Kamar, 21.00. Aku menekan tombol play pada salah satu file audio yang ada di folder bernama D. Ada suaranya, membacakan puisinya untukku diiringi instrumental dari Yiruma. Love Hurts. Ada kosong saat aku mendengar suara paraunya yang tengah bercerita. Dan sial setelah kuketahui semua akun social medianya diactivate pun aku baru menyadari, perasaanku telah berubah padanya. Jika ada bijak yang berkata ‘kita akan benar-benar merasakan kehilangan saat orang tersebut tak lagi bersama kita’ adalah benar adanya. Aku limpung ketika ia tak lagi mewarnai hariku. Aku mereply musikalisasinya yang berjudul ‘Pada Akhirnya’. Mengapa aku tak pernah menyadari kode darinya? Bahwa kami memiliki perasaan yang sama, tapi bisakah aku merubah keadaan? Aku dan dia telah memiliki pilihan, memiliki jalan cerita masing-masing. Tiga jam menuju hari lahirku, D aku merindukanmu.