Langsung ke konten utama

Postingan

Garis Akhir yang Memulai

pic sources pexels.com Namanya Ayumi, aku biasa memanggilnya Ay. Beberapa orang menganggap Ay artinya Ayang, mereka benar tapi tidak bagi dia. “Raka, makan siang bareng yuk,” sapa Ayumi, yang sudah berdiri di depan kubikelku. “Di mana?” “Soto Betawi di blok sebelah ya. Anak naga lagi ngidam Soto nih,” katanya sambil terkekeh. Aku menggeleng. Nih, cewek makannya banyak tapi tetep langsing aja. Perutnya dari apa sih? Aku melangkah ke luar kubikel, mengikuti Ayumi yang sudah ke luar ruangan. Saat aku berniat mengambil motor, Ayumi mencegah. “Jalan kaki aja yuk. Aku pengen jalan agak jauh,” cegahnya. Tumben? Kami sudah dekat sejak lama. Sejak Ayumi mulai bekerja di kantor ini. Aku adalah seniornya, sementara dia adalah juniorku. Meskipun usia kami tidak jauh berbeda.Kami dekat sejak sering ditugaskan bersama. Mulai dari monitoring ke cabang hingga meeting bersama masalah pelaporan keuangan kantor. Tugasnya sebagai Staff Accounting di perusahaan ini dan ak...

Patah Hati Terindah ala La La Land

La La Land | Source: Youtube Saya tidak pernah mereview film. Jadi kalau review film ini masuk di blog, sudah pasti film ini istimewa. Jadi 13 Januari kemarin saya berkesempatan buat nonton La La Land, satu film yang heboh di dunia karena berhasil menyabet beberapa nominasi di Golden Globe. Ok, saya orangnya tidak terlalu mengerti standar penilaian Golden Globe yang saya ingat rata-rata film yang sukses di Festival Penghargaan seperti ini, selalu membuat saya untuk berpikir ‘ini film maunya apa sih?’ Lalu apa sebenarnya yang membuat saya ingin sekali menonton La La Land? Hingga membuat saya sempat merasakan patah hati karena hanya diputar mid night di Bioskop langganan. Pesona Ryan Goseling? Hoho, tidak saya bukan penggemar si pemilik mata sayu itu. Arus timeline yang heboh membicarakan film ini? Juga bukan. Hahaha, saya ngebet nonton film ini karena ada Emma Stone. Yup, saya jatuh hati dengan mbak ini sejak doi bermain di Amazing Spiderman 2, huehehehe. Dan saya yakin OOT...

Satu Malam di Sudut Houtend Hand

Chocorado | Pic : by Kopilovie Apa yang kamu pikirkan tentang hubungan dari sepasang mantan kekasih? Mereka sering bertemu, tertawa dan berdiskusi layaknya karib tanpa peduli mereka dulu adalah sepasang kekasih. Seakan tak peduli dengan masa lalunya, mereka sering bertemu, sobekan tiket nonton tidak terhitung lagi bahkan tak terhitung berapa kali mereka bercakap berdua seperti layaknya sepasang kekasih di sudut kafe favorite mereka.  Maka, seperti itulah kami duduk di sini. Menyesap coklat hangat yang disajikan oleh Barista di kafe langganan kami sejak 4 tahun lalu, Houtend Hand. “Jadi, apa yang ingin kamu katakan padaku Koh?” tanyaku, sambil mengambil marsmellow yang ada di cangkir coklatku. Kebiasaanku saat menikmati Chocorado, minuman favoriteku saat di sini. “Kamu serius ingin mendengarnya sekarang?” katanya sambil mencondongkan wajahnya ke arahku. Ia tahu, suara angin dan deru kendaraan cukup jelas terdengar dari lantai dua Hautend Hand. Sudut favorite kami ...

Jika Kamu Berhak Bahagia, untuk Apa Merutuki Kebahagiaan Mantan?

Semua berhak bahagia, begitu juga dia -  Beberapa waktu lalu saya sempat menghadiri resepsi pernikahan ‘teman’ yang dulu sempat dekat. Anggap saja demikian. Saya mendengar rencana pernikahannya jauh sebelum dia datang mengantarkan undangan secara langsung kepada saya. Sedih? Sedikit. Tapi saya lebih banyak bahagianya. Untuk itulah sejak kabar pernikahannya saya dengar saya bertekat datang di acara tersebut. Tidak ada niatan untuk mangkir, mogok gak mau datang. Meskipun dulu saya pernah menitipkan impian saya padanya. Saya datang ke acara tersebut bersama seorang teman. Sebenarnya saya tidak masalah datang sendiri, toh tempat acaranya tidak jauh. Bisa saya tempuh dengan taxi. Tapi si teman maksa menemani. Dalihnya si enggak tega. Tapi enggak tau juga niatnya apa. Bahkan partner sempat memastikan bahwa saya bisa datang sendiri tanpa perlu baper. Ya, mungkin dia agak enggak rela jika saya datang sendiri, dan akhirnya baper mengingat masa lalu. Pas ditantang disuruh nemen...

[Review]: Emina Sugar Rush Lip Scrub

Kebiasaan memakai lipstik membuat bibir saya hitam, iya ini alasan saja padahal memang warnanya sudah hitam, hehehe. Meskipun saya bersihkan dengan pembersih, terkadang bekas lipstik masih menempel. Bikin kesel sih, karena bibir jadi kering dan pecah-pecah. Apalagi kalau harus memakai lipstik matte, duh bikin hasil pulasan lipstik jadi tidak merata. Yang niatnya biar terlihat okey setelah memakai lipstik, eh malah semakin berantakan. Nah, tugas di kantor membuat saya berkenalan dengan salah satu marketplace Sociolla. Karena menjadi bagian dari tugas kantor maka produk reviewnya, sering saya baca. Hehe, maka berkenalan lah saya dengan salah satu produk Emina yang sering direview di sana itu, yaitu Emina Lip Scrub Sugar Rush. Maka isenglah saya membeli salah satu produk Emina ini. Tentang  Emina  Sugar Rush Lip Scrub Kemasannya mungil. Berat nettonya hanya 4,2 gram. Warna pink pada kemasannya eye catching dan manis banget. Kemasannya yang mungil cocok untuk dibawa k...

Menjadi Beauty Vlogger Dadakan

Bekerja di media membuat saya belajar banyak hal, termasuk menjadi artis dadakan untuk mengisi konten video. Sudah 2 kali wajah saya muncul di chanel youtube vemale. Pertama video DIY membuat amplop lebaran dan kedua adalah video campaign #MyBodyMyPride . Di kedua video itu tidak ada satu pun yang mewajibkan saya bicara, saya cukup senyum-senyum depan kamera, dan semuanya beres. Tapi berbeda dengan konten video kali ini, selain bergaya dan senyum-senyum manis, saya juga harus bicara. Ok, karena kali ini saya harus mereview lipstik. OK LIPSTIK. Jeder!  Sebenarnya tidak masalah saya harus sok manis di depan kamera. Tapi ini saya harus memakai lipstik dan mereviewnya? Oh. Ok, saya memang cewek tapi kalau urusan makeup angkat tangan. Pakai bedak pun sudah syukur. Meskipun sekarang  sudah mau pakai skincare meskipun sekadar pembersih wajah dan pelembap. Anggap saja itu satu kemajuan. Dan sekarang saya harus mereview lipstik,dan bergaya di depan kamera. Cuap-cuap istilah lipsti...

Keluarga Itu...

Saya tinggal terpisah dengan orang tua sejak lulus dari SMA. Alasan studi membuat saya harus meninggalkan kota kelahiran, yang artinya saya pun harus berpisah dengan orang tua. Kehidupan merantau membuat saya belajar tentang banyak hal, salah satunya belajar untuk lebih mandiri dan menerima orang lain. Saya termasuk orang yang sulit untuk memulai komunikasi dengan orang lain. Lebih suka menghabiskan waktu sendiri, daripada harus mengobrol bersama orang lain.  Semenjak merantau karena urusan belajar dan pekerjaan, saya mulai belajar untuk membuka diri. Salah satunya belajar untuk menerima kehadiran orang lain. Saya sadar, tidak selamanya hal remeh dapat saya lakukan sendiri. Meskipun ego saya sering berontak ‘halah masalah gini aja, gampang!’ Tapi semua berubah saat saya sakit untuk pertama kalinya di rantau, membuat saya berpikir ‘Loh, ternyata saya butuh orang lain juga ya?’. Sakit membuat saya tidak dapat melakukan apapun, termasuk untuk sekadar membeli makan. Pergi ke dokte...