Langsung ke konten utama

Postingan

Maaf Sayang, Aku Ingin Terlihat Cantik di Matamu

Cantik/copyright pexels.com Ih, kamu enggak pantas pakai baju model begitu. Hahaha...itu alis apa ulet bulu. Habis minum darah neng? Kebanyakan gaya kamu, pakai make up segala. Muka gitu aja, enggak perlu di apa-apain. Gak bikin kamu tambah cantik. Ih, dasar kebanyakan gaya. Sering mendengar kalimat tersebut? Saya sering, berada di lingkungan yang didominasi banyak wanita tidak membuat saya dikelilingi oleh orang yang lebih paham wanita. Yah, justru mereka ini yang paling gencar membicarakan kelemahan kaumnya. Paling jago nyinyirnya. Miris? Jelas. Ada yang salah dengan wanita yang ingin terlihat cantik? Sepertinya menjadi pesakitan ketika seseorang berusaha meratakan alisnya. Sepertinya menjadi sah dicaci maki ketika seseorang memoles bedak yang tebal dan wajahnya terlihat lebih putih dibanding lehernya. Duh, jadi wanita yang ingin cantik memang tidak mudah. Well, sayangnya yang gemar merendahkan ini kebanyakan dari kaumnya sendiri. Wanita. Coba saja liha...

Tentang Memaafkan

Lebaran sudah seminggu berlalu, apa yang saya dapatkan? Banyak hal yang terjadi beberapa bulan ini. Sakit hati, kecewa dan tangis. Hingga sempat membuat saya berpikir, sampai kapan ini akan terjadi? Emosi ternyata membuat saya tidak sempat berpikir tentang kebahagiaan. Amarah ternyata mengikis logika saya. Namun, beruntungnya saya memiliki orang-orang baik yang setia saat saya terpuruk. Hingga saya dapat menepis ego hingga titik terendah. Adalah malam takbir kemarin, saya benar-benar menangis. Saya tidak pernah merasa sengilu ini saat malam takbir. Saya menangis hebat. Mengingat apa yang telah saya lakukan beberapa bulan lalu. Ternyata semua sia-sia, seharusnya saya tidak menuruti emosi. Amarah tidak akan membuat segalanya menjadi baik, justru menjadikannya abu. Sakit hati saya luruh. Dalam hati saya berjanji ini airmata terakhir saya untuk kebodohan ini. Saya berjanji ini amarah terakhir saya. Memaafkan memang tidak mudah. Melupakan tidak ada yang mudah. Menerima...

Selamat Ulang Tahun

copyright pexels.com "Selamat ulang tahun," bisikku tepat jam menunjuk pukul dua belas malam. Lilin yang berada di atas kue ulang tahun dengan ukiran namamu menyala terang. Wajahmu terlihat tampan malam ini, dari balik siluet cahaya lilin. Aku mengusap tulang pipimu pelan. Lalu tersenyum. "Selamat ulang tahun," ulangku, kali ini lebih pelan. Aku melihat senyummu. Aku mengamatinya, menyimpannya dalam setiap sel otakku. Takut jika ulang tahun berikutnya aku tak lagi bersamamu. Bukankah ketakutan terbesarku adalah kehilanganmu. "Selamat ulang tahun," Kali ini aku tidak melihat senyummu, hanya tangis tertahan saat kedua tanganku menancapkan pisau tepat di dada wanita yang kamu nikahi lima tahun lalu. Tanganku lincah mencukil kedua bola matanya. Bola mata yang kamu agungkan di belakangku. Bola mata yang membuatmu tak lagi melihatku. "Selamat ulang tahun dan terima kado sepasang mata yang kamu puja di belakangku ini." ...

Dementor

Dementor | copyright pottermore Jika kalian penggemar serial Harry Potter tentu tahu dengan tokoh Dementor. Iya, makhluk yang hobi menyerap kebahagiaan orang yang berada di dekatnya. Efeknya? Seseorang yang kehilangan kebahagiaan itu sama mengerikannya dengan orang yang kehilangan harapan. Kalau enggak depresi ya bakal berujung mati. Rasanya gimana sih bertemu Dementor alias seseorang yang membuat kita kehilangan kebahagiaan? Hfft, jangan ditanya. Menyebalkan dan menyakitkan. Suka atau tidak, setiap orang pasti memiliki Dementor. Ada yang berwujud kenangan dengan mantan, tentang cinta yang tidak terbalas, deadline pekerjaan, Bos yang menyebalkan, teman yang sok tau, dan banyak lainnya. Kalau ditanya apa wujud Dementor saya saat ini? Jawabannya adalah keadaan yang memaksa saya untuk menerima. Apa itu? Biar saya dan Tuhan yang tahu. Hahaha, padahal tidak ada yang ingin tahu juga. Tidak ada penyakit tanpa obat. Begitu juga dengan kehadiran Dementor ini. Ada cara untuk men...

Menjadi (yang) Mereka Inginkan

Menjadi aku ternyata tidak mudah. Saya adalah bungsu dari lima bersaudara. Banyak yang menganggap menjadi bungsu itu menyenangkan karena pasti semua keinginan akan dipenuhi. Tidak perlu menunggu besok, hari itu juga pasti dikabulkan. Menjadi bungsu itu menyenangkan, kata bagi sebagian. Ketika ada yang tidak sesuai yang diinginkan, cukup merajuk maka semua urusan selesai. Semua akan menuruti. Menenangkan dengan janji akan memberi dua bahkan tiga kali lipat dari yang diinginkan. Sayangnya menjadi bungsu tidak semudah yang mereka bayangkan. Apalagi menjadi bungsu yang serba enggak enakan. Ketika egoku tersakiti, aku pikir semua akan memahami. Justru saat aku ingin mengemukakan pendapat, mereka berpikir aku hanya cemburu dan iri. Halah, bungsu kan tidak jauh dari dua hal itu. Tukang iri dan cemburu. Egois mereka bilang. Ternyata menjadi bungsu yang mereka inginkan tidak mudah. Ketika merajuk salah, lalu apa aku harus pergi? Ternyata juga salah, jika aku p...

Sahur Apa?

Alhamdulilah bertemu Ramadan lagi. Beberapa orang suka menanyakan menu sahur saya. Alih-alih kepo, mereka penasaran menu sahur seorang Ayu yang picky. Saya memang pemilih dalam soal apa pun termasuk dengan memilih menu sahur. Lalu menu sahur apa yang kamu pilih? Saya biasa minum air putih dan satu buah. Buahnya entah apel atau pear. Tapi 2 Ramadan ini saya memilih pear century. Alasannya pear centrury lebih manis dan kresh. Harganya gak terlalu mahal dan tentu saja kandungan airnya lebih banyak sehingga membuat saya terbebas dari dehidrasi. Air putih yang saya minum saat sahur yaitu sebanyak 1 botol tupperware ukuran tanggung, ya setara 600ml. Kadang bisa lebih. Gak laper yu? Gak haus? Alhamdulilah, ritual sahur model begini sudah saya jalani sejak 6 tahun lalu. Malah saya lebih kuat dan tidak merasa lemas. Justru kalau makan nasi waktu sahur badan saya semakin lemas. Hehehe. Dulu seseorang suka memarahi saya dengan kebiasaan sahur saya. Tapi waktu itu iya-iya aja....

Bapak

Doa tak akan pernah mengembalikan ia yang telah pergi, tetapi doa akan menabahkanmu dari kehilangan – Ayu Puji Lestari. Perjalanan ini  terlalu lama, bayangan tentang Bapak memenuhi isi kepalaku. Telpon yang kuterima subuh tadi mengantarkanku untuk duduk di dalam bus berwarna kuning ini. Perjalanan untuk pulang. Air mata berkali-kali kuusap. Mengabaikan pandangan heran penumpang yang memenuhi bus ini. Aku hanya ingin segera sampai rumah, dan memastikan bahwa Bapak baik-baik saja. Bahwa kekhawatiranku tak akan pernah terjadi. Aku hanya ingin memeluk Bapak. “Bagaimana kuliahmu?” tanya Bapak saat mengantarku kembali ke Pasuruan sore itu.  “Tinggal tugas akhir pak,”jawabku setengah berteriak, mengalahkan suara motor yang membenamkan suaraku. “Ya syukur. Tahun ini selesai kan?” “Insyaallah,” Jawabku. Dan itu adalah percakapan terakhirku bersama Bapak, sebelum akhirnya pertengahan Januari kemarin Bapak harus dirawat di rumah sakit. Ada peradangan di ginja...