Langsung ke konten utama

Postingan

Perkara Patah Hati.

Saya sedang menyesapi gelas terakhir kopi saya. Yeah, sebulan ini saya kecanduan minum kopi. Ada saja alasan yang menjadi pembenaran atas kebiasaan baru saya ini. Yang setahu saya tidak terlalu baik untuk kesehatan lambung saya. Sebulan ini dalam sehari saya dapat menghabiskan 2 gelas kopi, belom lagi kalau lagi nyatroni Alfamart maka satu botol Kopiko 78 bakal jadi sajen saya :)) Entah ini pelarian atau saya memang sedang mengejar apa yang saya sendiri tak tahu apa yang tengah saya cari. Saya hanya merasa kosong. Sejak memutuskan untuk berhenti dan deactivate akun @perihujan_ saya kehilangan selera. Segalanya serba apatis. Mungkin ini yang namanya patah hati. Dan saya pun tak tahu siapa yang harus saya minta pertanggungjawabannya atas hati yang begitu tega ia patahkan. Kecewa. Iya, mungkin saya hanya kecewa. Orang selama ini saya percaya untuk saya titipkan sebagian hidup saya begitu tega meninggalkan saya. Membiarkan saya sibuk berasumsi, mencari pembenaran meski pada akhirnya k...

Selamat Datang (lagi) Februari

Dear Mr. A Hai, kita bertemu lagi di bulan yang merubah status kita. kamu ingat? ini adalah Februari kedua kita, ah betapa bahagianya aku jika Februari berikutnya kita tak lagi terpisah dengan jarak. Masih ingat di Februari pertama kita bertemu, hujan membuatku bersembunyi dibalik punggungmu. Menarik ujung jaketmu dan terlalu malu untuk mendekat. Kamu yang memarkir mobil terlalu jauh membuat kita bermain hujan sore itu. Kamu, masih ingat betapa canggungnya kita saat duduk berdua di areal foodcourt setelah nonton? Ah, betapa kagetnya aku saat kamu dengan tiba-tiba mencoba menu yang kupilih dari piringku. Kamu tahu? canggung itu hingga kini masih kurasakan. Mencintaimu membuat separuh hidupku sempurna. Terima kasih Mr. A kesayanganku. Dari, Mrs. A

Aku, Kamu dan Sekotak Kenangan Kita.

Aku memutar gelas iced coffeeku yang belum kuminum sama sekali. Minuman kegemaranku dan juga Dia. Aku memandang keluar area warung waralaba itu. Hari ini tepat lima bulan aku dan dia bertemu tanpa sengaja di tempat ini. Pertemuan yang tak pernah kami duga, karena setelah hampir dua tahun aku dan dia hanya bertukar sapa di linimasa. Dan sesekali mengetahui dimana satu sama lain berada dari check in yang tertinggal di foursquare. Semua berbeda. Aku membuka akun twitterku, berharap menemukan obrolannya bersama Fania terekam di sana. Setidaknya kicauannya menandakan bahwa semua berjlan dengan normal. Tetapi kosong, tak ada satu pun kicauannya kutemukan di linimasa. Ragu aku berniat membuka akunnya tapi urung. Aku tak ingin ia menyadari jika aku terlalu sering memantau linimasanya. Ketakutan yang lucu, padahal rutinitas ini sempat menjadi candu bagiku. Handphoneku kembali aku letakkan di samping french fries yang sudah dingin. Ada kosong sejak ia memutuskan kembali bersama...

Meninggalkanmu.

Akhirnya saya memtuskan untuk Deactivate accoun twitter @perihujan_ Akun yang menemani riwil saya sejak tahun 2009 :) Ada perasaan aneh, ketika pagi tanpa mendengar notifikasi mention atau DM. Twitter bagi saya adalah dunia kecil yang cukup mengerti saya. Dunia yang tanpa perlu meributkan saya harus bagaimana. Hingga akhirnya, twitter tak lagi menarik bagi saya. Banyak helaan nafas, yang akhirnya membuat saya mengambil keputusan untuk berhenti. Hai, Stalker...semoga kamu berbahagia. Anggap saja aku kalah jika itu membuatmu puas. Ambil dan genggam seerat mungkin, apa yang kau takutkan akan berlalu darimu. Peluk ia seerat kau mampu, dan jangan biarkan ia melihatku atau mengingatku sebagai teman sekalipun. Kamu berbahagialah. Pasuruan, 29 januari 2013.

After All

Aku merefresh contact yang ada pada contact list WhatsAppku. Ada namanya pada urutan teratas, dan aku membaca status yang ditulisnya. “Bukan kita yang berubah, hanya kita yang telah merubah prioritas.” Apa dia sedang menyindirku? Sejak aku memutuskan memulai membuka hati, dan menerima ajakan Fania untuk kembali. Aku dan dia tak lagi seperti dulu, tak ada lagi obrolan tak penting disela waktu istirahatku. Saat aku tak lagi penat dengan segudang pekerjaan chatting darinya tak lagi menjadi rutinitas, voice note darinya tak lagi memenuhi folderku. Sekarang aku disibukkan bagaimana membuat Fania tetap bertahan disisiku, bagaimana aku tetap mengokohkan hati agar tak runtuh oleh jarak yang ada diantara aku dan Fania. Kita berubah. Aku mengetik satu pesan untuknya, berulang kali tetapi aku urungkan. Aku ketik, baca kemudian kudelete. Berulang kali. Takut. Bukankah dia telah memilih hati yang lain? Bukankah dia akan baik-baik saja? Aku tak ingin mengganggunya dengan sapaan...