Langsung ke konten utama

Pilihan.

Kemarin sore saya ditelpon Ibu, rutinitas yang kerap dilakukan Ibu semenjak saya meninggalkan kota Pasuruan. Sedikit banyak Ibu merasa khawatir dengan saya, meski kota yang saya tempati sekarang bukanlah tempat yang asing bagi saya. Bahkan, telah menjadi rumah kedua bagi saya. 
Bercerita tentang hal yang saya lewati seharian adalah menjadi hal yang biasa sejak saya tak lagi di Pasuruan, Ibu juga kerap menanyakan bagaimana dengan perasaan saya karena tinggal dan menetap di kota yang sama dengan orang yang pernah mengisi hari-hari saya. mungkin Ibu khawatir jika nantinya saya berniat kembali bersama ia yang kehadirannya tak pernah mendapat restu. Hahahaha.
Ibu hanya khawatir, dan saya mengerti itu. Ini kedua kalinya saya resign dan saya merasa ini adalah proses yang paling dramatis. Mengapa demikian? Iya, karena dengan saya resign dari kantor saya pun harus meninggalkan kota Pasuruan yang telah enam tahun menemani saya.
Saat saya memutuskan untuk tinggal di kota ini (lagi) setelah enam tahun yang lalu dengan semangat saya meninggalkannya saya memilih untuk kembali. Bukan untuk meratapi apa yang pernah saya lepas, atau berusaha memperbaiki apa yang pernah saya putuskan untuk mengakhirinya. Ini adalah pilihan saya, suka dan tidak suka saya ingin kembali ke kota ini. Kota yang kini pun ia tinggali.
Saya cukup mendapat dukungan dari Ibu dan juga kakak-kakak saya. Bagaimana pun juga, ketika saya menangis merekalah yang akan berlari ke arah saya dan menghapus air mata saya. Mereka tahu tanpa perlu saya mengadu, mereka paham meski saya tak mengeluh.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Morning Pages

Menulis untuk jiwa/copyright  rawpixel.com   Writing is medicine. It is an appropriate antidote to injury. It is an appropriate companion for any difficult change - Julia Cameron. Menulis bagiku adalah obat. Menuangkan keluh, mencatat mimpi, hingga mematik harapan. Itulah alasan kenapa aku banting setir untuk berkarir di media. Harapannya sih, seru kali ya menulis terus dapat duit. Meskipun pas terjun kerja di media, ternyata pekerjaanku bukan menulis seperti yang di catatan-catatan yang pernah kutuliskan. Aku menulis untuk orang lain. Maka journaling adalah obat buatku. Saat aku tidak bisa menulis tentang hal-hal yang sensitif, menuliskan di buku jurnalku membuatku merasa tenang. Menulis untuk memberi makan jiwa aku menyebutnya. Biasanya setiap pagi sebelum memulai aktivitas aku menuliskan banyak hal di lembaran jurnalku. Hal random seperti enak mana tahu atau tempe, hingga seserius mengapa semakin ke sini hal-hal yang disebut ‘pertanda’ itu semakin jelas. Menuliskan hal itu ...

Lost in Malang, Malam Minggu Receh Jalan Kaki Keliling Kota Malang

Siapa sih yang enggak suka malam minggu? Apalagi para pekerja yang sabtunya harus kerja. Malam minggu itu semacam angin surga, bisa pulang kerja lebih awal dan sore hingga malam bisa ngapain aja. Tidur malam pun tidak masalah, karena besok hari minggu dan libur. Maka malam minggu kemarin saya memutuskan ikut acara yang diadakan A Day To Walk. Jalan-jalan hore di malam hari sepertinya tidak ada salahnya menjadi pilihan saya malam itu. Sejak siang saya diribetkan dengan urusan event di komunitas, sempat ketemu teman lama juga dan hampir menjelang malam baru kelar semua urusan. Muka sudah kucel dan badan sudah remuk sebenarnya. Acara A Day To Walk sebenarnya dimulai pukul setengah tujuh, lah ini pukul tujuh telat banget ya seandainya saya nekat untuk gabung. Iseng lewat meeting point, sekalian mau oper angkot dan ternyata masih ramai. Well, akhirnya saya ikut bergabung.  Ternyata malam itu banyak juga yang datang. Saya sempat ber’hai’ dengan salah satu peserta. Ngobrol sebent...

Berlibur ke Malang Selama 24 Jam? Berikut Tempat yang Wajib Kamu Kunjungi

Kota Malang memang penuh daya tarik maka tidak heran jika setiap hari selalu saja wisatawan yang datang untuk berkunjung ke kota ini. Malang memang berbeda, meskipun di beberapa tempat mulai macet tidak mengurungkan niat pecintanya untuk berkunjung. Jika kamu berniat berkunjung ke kota Malang hanya sehari, itenary ini bisa menjadi pertimbangan buatmu. Yuk, mari! 06.00 – 07.30, Jalan Kawi Mengisi perut dengan sajian khas kota Malang bisa menjadi alternatif buat kamu. Salah satu yang khas dari kota Malang adalah Pecel Kawi, yang berada di Jalan Kawi. Jika kamu tidak seberapa suka Pecel, di sepanjang jalan Kawi banyak kuliner lainnya. Lokasinya pun masih satu tempat dengan Pecel Kawi, ada Nasi Buk Madura, Widuri yang menyediakan masakan campur, dan Nasi Krawu. 08.00-10.00, Alun-Alun Puas dengan sarapan khas kota Malang. Kamu bisa mencari angkot LG menuju arah pusat kota. Ada Alun-alun, dan Tugu 0 kilometer di bawah jembatan penyebrangan. Tidak perlu khawatir, di alun-alun...