Kamis, 19 Januari 2017

Berdebat dengan Rasa Khawatir

Tidak perlu khawatir | pic: pexels.com


“Aku pengen ikut, tapi...bla..bla..”

Yup, beberapa hari yang lalu saya mendapat tawaran dari seorang teman buat bareng trip ke Pulau Bawean. Ada dua kali trip yang diadakan di bulan Februari besok. Yang pertama di pertengahan bulan dan yang kedua diadakan di akhir bulan. Tanpa pikir panjang saya mengiyakan untuk ikut trip di akhir bulan, dengan pertimbangan pertengahan bulan saya ada acara yang mengharuskan saya untuk hadir. Jadi besar kemungkinan saya untuk tidak bisa ikut. Ok, malam itu saya tidur dengan bahagia. Membayangkan ngetrip ke Bawean di akhir bulan, membuat saya tidur dengan sumringah. Belum jalan saja sudah bahagia duluan, dih ini gimana sih maunya? Iya, saya mupeng dengan Pulau Nuko. Hamparan pasir putihnya pasti lucu buat ngelamun.

Masalah datang ketika saya bangun keesokan paginya. Seperti biasa saya mengecek agenda yang bakal saya lakukan selama beberapa waktu ke depan. Saat saya membalik kalender saya shock, loh tanggal 26 Februari ada acara. Panik saya menghubungi teman yang ternyata sudah nyolek agent yang bakal mengawal trip ke Pulau Bawean. Saya jelasin panjang lebar, kalau ternyata saya tidak bisa ikut ke Bawean.

Saya sudah kesel sampai mau nangis saat menceritakan padanya.

Tapi si temen dengan santai bilang, “Udah, tenang aja. Bilang jujur sama travel agennya. Kira-kira kamu daftar di akhir bulan masih sempet gak? Come on it’s easier..that your panic

Boom, rasanya ketampar. Iya aku panik duluan, bingung berasumsi. Gimana kalau begini, gimana kalau begitu. Tanpa mencoba untuk tenang dulu. Hmm, emang apa semua cewek seperti ini ya. Panik duluan, mikirnya belakangan. *Tabokin*

Akhirnya hari itu saya menghubungi travel agen. Dan bilang ini itu sesuai yang disarankan teman. Bahkan saya mencopy paste kalimat yang disarankan teman saya itu. Well, dan negosiasi itu berhasil. Si Travel Agen mau menunggu sampai akhir bulan untuk memastikan apakah saya bisa mengosongkan jadwal saya di hari trip ke Bawean di akhir bulan Februari besok.

Yeay. Senang? Tentu saja. Akhirnya siang itu saya kembali googling tentang Bawean. Sudah membayangkan bakal ngapain saja di sana. Yeah,seringkali bahagia itu datangnya tiba-tiba lalu saat sudah tinggi, seenaknya saja dihempaskan.

Malam ini saat saya menulis blog post, akhirnya saya memutuskan untuk tidak ikut ke Bawean. Sedih? Jelas saja. Kecewa? Sangat. Tapi bukankah pilihan selalu memiliki konsekuensi. Ke Bawean bisa kapan saja, tapi buat event Februari besok? Saya rasa tidak.

Setidaknya kemarin saya berani untuk membuang jauh rasa khawatir. Saya berani melawan rasa khawatir yang kadang terlalu menyebalkan ini. Well, apakah saya akan menyesal? Semoga tidak.
Kemudian saya whatsapp si teman.

“Aku yang ke Bawean fix enggak jadi ikut”

Malang, 19 Januari 2017.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar