Senin, 02 Maret 2015

My Iced Coffee Man (Tantangan no 11. Tuliskan sesuatu untuk lelaki/perempuan dalam hidupmu.)

Ditulis untuk Tantangan Menulis dari @Kopilovie dan @Miss_ZP . Tantangan no 11. Tuliskan sesuatu untuk lelaki/perempuan dalam hidupmu.

Teruntuk kamu, yang selama dua tahun menemaniku dan yang sepuluh bulan ini berusaha kubiasakan diri tanpa rutinitas tentangmu. Kamu tahu sejak mengenalku, menulis adalah caraku membebaskan penat, maka malam ini aku ingin menulis tentangmu.
Hai, jika kamu tanpa sengaja membaca tulisan ini sungguh aku tidak sedang mengharap apa-apa. Jangan berpikir tentang kita yang dapat memulai dari awal, bukankah dulu kamu sering bilang tidak akan pernah ada kata balikan dalam hidupmu kurasa aku akan mengamini apa yang menjadi prinsipmu itu.
Aku hanya sedang bercerita, anggap saja aku sedang meracau. Kamu tahu ini adalah cerita yang selalu ingin aku katakan sejak kita tak bersama lagi. Sejak ucapan selamat pagimu tak lagi kutemui, sejak ucapan semangatmu saat aku mulai mengadu tak lagi kudengar, sejak semua tak lagi sama.
Aku tinggal di Malang sekarang, ah betapa dulu hal ini sangat kita impikan. Tentang kita yang tak lagi berjarak. Tentang kita yang kalau ingin bertemu tak harus bersabar menunggu hari sabtu. Kurasa kamu pun tahu aku sudah di Malang sejak awal September tahun lalu. Dan lihat, semesta pun sepertinya sepakat tak membuat kita bertemu.
Kamu tahu, terkadang dan sering kali aku sengaja datang ke tempat yang dulu sering kita kunjungi, berharap ‘kebetulan’ mempertemukan kita. Tapi sekali lagi, semesta sepakat untuk tidak mengamini keinginan sederhanaku. Ah, seharusnya bisa saja aku menelponmu meminta untuk kita bertemu. Tapi kamu tahu, kadang egoku terlalu tinggi untuk sekedar bertanya kabar padamu.
Seharusnya tak jadi masalah kan?
Tetapi aku memilih untuk tidak memenangkan hatiku. Egoku menang, dan aku limpung.
Kalau kamu tanya untuk apa ada pertemuan setelah perpisahan yang kita pilih? Entahlah, aku hanya ingin mengatakn padamu bahwa aku baik-baik saja. Aku ingin kamu melihatku dengan pipi tembemku sekarang. Ah, pasti ini kamu anggap lucu. Tapi sungguh, aku ingin kamu tahu bahwa aku baik-baik saja.
Tetapi semesta tak pernah menginginkan kita bertemu, meski hanya ‘kebetulan’.
Aku pikir setelah pertemuan terakhir kita, setelah perbincangan lama kita yang lebih sering kugunakan untuk menghapus air mata yang hampir tumpah setiap kali aku memulai untuk berbicara. Setelah kamu mengantarku ke kos, setelah kamu menyerahkan choco ice blanded yang kuminum dengan tangis yang sejadi-jadinya malam itu aku dapat melupakanmu. Ternyata aku salah; kamu tak secepat itu pergi dari ingatanku.
Setelah aku membaca postinganmu di socmedmu tentang wanita lain itu, dan yang membuatku menangis seharian aku berharap dapat melupakanmu. Tapi ternyata aku salah.
Setelah aku berkali-kali mencoba untuk menerima ajakan lelaki lain, menerima ajakan mereka untuk minum kopi, nonton atau mencoba makan di kafe baru. Aku sadar, setiap kali aku melakukan hal-hal yang sering kita lakukan bersama dan sedang kucoba kulakukan dengan orang lain yang terlintas di benakku adalah kamu. Kamu tahu, sering kali aku menangisi hal ini. Mengapa aku tak bisa melupakanmu?
Menagapa aku sulit intuk merelakan kepergianmu? Mungkin benar ada beberapa hal yang belum sempat kita selesaikan.
Dan aku tahu dua tahun, bukanlah waktu yang singkat.
Jika semesta ternyata mengaminkan doa-doaku tentang satu kebetulan yang aku harapkan. Maka ijinkan aku mengucapkan terima kasih;
Terima kasih telah menemaniku selama dua tahun;
Terima kasih telah bersabar dengan segala runtuk dan keluhku,
Terima kasih telah merelakan kepergianku.
Dan
Terima kasih telah membuatku merasa dicintai.

Malang, 1 Maret 2015.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar