Jumat, 12 September 2014

Setelah Enam Tahun

Perpisahan itu tak pernah mudah bagi siapa pun, dan hal terberat dari perpisahan adalah memunguti tiap remah kenangannya -- @_yulesta.

Hari ini telah lewat beberapa hari sejak saya meninggalkan Pasuruan, kota yang menjadi tempat saya bernaung selama enam tahun lebih. Kota tempat saya memperjuangkan cinta yang terbatas jarak, pun merelakannya berakhir. Kota yang menemani saya untuk tumbuh menuai cinta yang baru. Kota, yang setiap sudutnya mengajarkan kepada saya bahwa tak ada yang sia-sia dari setiap perjalanan hidup.
Setelah enam tahun berlalu, saya menyadari beberapa hal. Pasuruan telah memberi saya banyak teman yang statusnya melebihi saudara. Mungkin inilah alasan mengapa meninggalkan Pasuruan tidaklah pernah mudah bagi saya, terlalu banyak tapi di tempat ini. Terlalu banyak kebahagiaan yang membuat saya betah berlama-lama di Kota Sakerah ini.
Beberapa tahun yang lalu saat saya memutuskan untuk berhenti dari kantor sebelum ini, pun saya berniat untuk tidak akan pernah kembali ke Pasuruan. waktu itu bagi saya tiga setengah tahun adalah waktu cukup bagi saya. Tapi ternyata Tuhan memiliki rencana lain, saya kembali ke kota Pasuruan lagi. Kembali bekerja di kota Pasuruan, dan kembali berkumpul bersama sahabat yang melebihi saudara itu. Kembali saya menemukan banyak tawa saat saya kembali ke Kota Pasuruan. Kehadiran teman-teman baru di kantor yang baru membuat semakin semarak kehidupan saya di Pasuruan.
Dan kala itu saya berjanji tidak akan meninggalkan kota ini lagi.
Siapa sangka, kehidupan berputar setelah enam tahun di Pasuraun. Tuhan mempunyai rencana lain untuk saya. Kepergian Ayah, merubah pola pikir saya, merubah prioritas hidup saya. Saya ingin mendekati pelukan Ibu, satu-satunya orang yang saat ini menjadi alasan saya untuk berjuang lebih keras lagi. Saya harus menyelesaikan studi saya, dan lagi-lagi saya mendapati satu pilihan. Dan saya memilih untuk berhenti dan memaknai kebahagiaan saya dengan cara yang berbeda. 
Setelah perjalanan panjang dan pergulatan pikiran yang pelik saya akhirnya memutuskan untuk meninggalkan Pasuruan. Saya memilih untuk konsentrasi degan studi saya, tinggal di tempat pengharapan yang luar biasa bagi Ibu saya. Ini pilihan saya.
Akhirnya saya tahu tak ada yang salah atau benar dari pilihan itu yang ada hanyalah konsekuensi dari pilihan itu. Saya memilih untuk pergi dari Pasuruan, tak sedikit yang menyayangkan keputusan saya. Bertanya mengapa tiba-tiba? Pun banyak juga yang mendukung keputusan saya, dengan embel-embel dengan tetap keep contact dengan mereka.
Tentu saja, mereka bukan hanya teman bagi saya, mereka adalah saudara terbaik saya.
Kini setelah enam tahun berlalu, saya percaya tak ada yang kebetulan di dunia ini. Saya percaya Tuhan pasti memiliki rencana dengan setiap apa yang terjadi pada saya. Saya selalu percaya ketika saya pergi, Tuhan tengah menyiapkan tempat yang baru untuk ia yang menggantikan saya. Pun sebaliknya, Tuhan tengah menyiapkan tempat yang baru untuk saya. 

Terima kasih untuk teman, sahabat dan kakak terhebat saya selama di Pasuruan Mbak Murti. 


Terima kasih untuk Mbak Luluk, Mister Alvon, Bro, Pak Roni, Mas Djalil, Mbak Ika, Anggi, Mbak Eka, Mbak Ketrin, Pak Erik, Pak Yudien, Pak Cosmas, Meme Siska, Semua teman-teman di Sejati Group dan CU Sanqti Jawa Timur.

Terima kasih untuk semua, kalian hebat dan luar biasa.

Terima kasih telah menjadi teman yang baik untuk saya. Terima kasih telah setia mendengar keluh saya. Terima kasih untuk tawa di setiap kesempatan.

Dan terima kasih mau menjadi teman bagi saya yang biasa. Kalian sungguh luar biasa.


2 komentar:

  1. Terimakasih juga untuk menjadi sahabat serasa menjadi kakak perempuan saya .
    Semoga sukses mbak ayu :)

    Dan , jangan lupa beling nya
    ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wuhuuu...Anggi, makasih selama jadi partner of crime aku banyak ngerepotin kamu ~~~\o/

      salam beling ('-')9

      Hapus