Selasa, 11 Maret 2014

Tulang rusuk(ku).

"Kapan nikah?" adalah pertanyaan wajib setiap kali aku bertemu dengan orang-orang terdekat. Dan jawaban dariku tak lebih dari cengiran yang bisa bermakna "WOI, BISA GAK TANYA ITU!!!!"
Entah pembenaran atau hanya sekedar ingin menyenangkan diri sendiri, menikah bukan saja soal cecintaan. Menikah adalah kesiapan. Siap untuk jatuh cinta setiap hari, siap untuk benar-benar akan baik-baik saja, siap dengan segala bentuk bosan yang bisa saja datang tanpa permisi dalam hubungan dua orang. Menikah tidak hanya urusan dua orang jatuh cinta lalu cring kita menikah dan hidup bersama.
Dan aku tahu di saat umur tak lagi belia, semakin banyak orang semakin riwil dengan segala urusan ini. Kalau belum bertemu sama jodohnya aku bisa apa? kalau belum datang waktu yang tepat itu aku bisa apa? Saat ada yang nyeletuk bilang, pacar ada, udah mapan dan punya segalanya yang disebut standar sukses orang pada umumnya (do you know what I mean), kerjaan gak buruk-buruk amat, usia udah cukup untuk gendong bayi, jadi apa lagi yang ditunggu?
Baiklah, anggap saja aku punya dan sudah memenuhi segala standar yang pada umumnya orang patenkan sebagai ukuran kesiapan menikah. Lah kalau belum saatnya,aku bisa apa?

Aku menikah bukan karena gengsi, bukan untuk pembenaran bahwa tujuan hidup hanya untuk menikah. Aku percaya Tuhan menciptakan aku beserta apa yang mereka sebut tulang rusuk, jodoh atau pasangan hidup. Tuhan tak mungkin membiarkan aku sendiri. Dan aku meyakini itu.

Tapi aku pun percaya, sekarang yang tengah tersenyum dan merengkuh pundukku bisa jadi bukanlah yang Tuhan takdirkan untukku.
Bukan kah jodoh, bukan seberapa lama kita mengenalnya tapi ia yang benar-benar ditakdirkan untuk kita. Bisa jadi ia yang tak pernah ada dalam angan kita sekali pun.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar