Kamis, 20 Maret 2014

Iced Coffee Story.


Dear My Iced Coffee.
Selamat malam, detik ini tepat dua puluh empat kamu memeluk bumi. Mengapa secepat ini kamu meninggalkanku?
Rasanya baru kemarin kita bicara banyak hal tentang impian sederhana kita, tentang banyak hal yang akan kita lakukan saat jarak tak lagi membatasi kita. Mengapa kamu secepat ini meninggalkanku?
Rasanya baru kemarin kamu mengacak rambutku, dan berkata semua akan baik-baik saja. Bahwa tak akan lagi ada  air mata setelah ini. Setelah aku dan kamu tiada, yang ada hanya kita. Rasanya baru kemarin aku melepaskan tautan tanganmu saat mengantarkanku pulang, kamu tahu aku tak pernah merasa seberat ini meninggalkanmu.
Kamu, sebulan ini aku begitu manja padamu.
Kamu, sebulan ini yang begitu manis padaku.
Aku tak tahu mengapa kamu meninggalkan aku secepat ini, saat kita telah sepakat untuk bersama. Saat kita sepakat akan membagi semua keluh bersama. Saat semesta berpesta merayakan kebahagian kita. Mengapa Tuhan begitu tega mengambilmu dari sisiku secepat ini?
Saat cintaku menggebu padamu.
Saat rinduku gemuruh padamu.
Apakah aku tak boleh bahagia bersamamu? My Iced Coffee kesayanganku, aku kangen kamu. Bisakah kamu tak meninggalkanku secepat ini?
My Iced Coffee, you’ll always my favorite what if.

~D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar