Minggu, 16 Maret 2014

Dancing with rain.





15 Februari, Bandara Juanda.
Aku meraih tas selempangnya, memain-mainkannya. Dan menunduk, menyembunyikan wajah sedihku.
“Hai, jangan sedih gitu dong. Nanti waktu kamu ujian aku pasti nyempetin pulang. Aku bakalan datang, aku janji.” Katamu lalu meraih kepalaku dan membenamkannya dipelukannya.
Aku menyesap aroma tubuhnya, menyimpannya rapat-rapat kelak saat rinduku sekarat aku dapat mengingatnya kembali.
“Janji ya?” tanyaku.
“Iya, Mbuletku sayang.” Katanya seraya mencubit hidungku gemas. Aku tersenyum, meyakinkan.
Siang itu, di Terminal C Bandara Juanda aku melepas kepergian Dika. Melihatnya berlalu, dan menghilang.

12 Maret, Batavia Cafe and Resto.
“Kamu sukanya bikin kejutan.” Kataku, mencondongkan muka ke arah Dika.
Dika tertawa. “Tapi kamu senang kan? Belum genap sebulan aku sudah pulang lagi. Makanya kamu jangan suka bikin kangen gitu dong. Aku sering khawatir jika jauh sama kamu.”
Aku mengaduk choco perfaitku, menyembunyikan semburat merah jambu di pipiku.
“Tapi, makasih ya jadi aku gak perlu bingung bagaimana menyerahkan ini secara tepat waktu.” Kataku, lalu menyerahkan sebuah kotak kearahnya.
“Selamat ulang tahun.”
“Terima kasih Mbuletku kesayangan.” Katanya, lalu meraih tanganku dan menggengamnya erat.
“Kamu adalah kebahagiaanku.”
“Iya, dong. Ayo buka kadonya.” Rajukku. Dika menurut, ia membuka kotak itu dengan sigap. Dia namak terkejut melihat satu buku bersampul merah maroon, dan bertuliskan D&Mbul.
“Norak ya?” Kataku. “Dan, maaf kurang rapi aku membuatnya sebulan ini dan berharap semuanya selesai sebelum kamu pulang.”
“Kamu tahu aku kan? Aku ini berantakan.”
Dika tak menjawab, dia sibuk membuka setiap lembar scrap book yang penuh dengan foto kami.
“Terima kasih, dan ini lebih dari cukup.” Katanya.
Dan malam itu aku tahu, bahwa aku begitu beruntung dicintai oleh seorang Dika.

Kamar, 15 Mei.
Aku memandang angka yang ditunjuk pengukur suhu, tiga puluh sembilan derajat. Pantas saja kepalaku rasanya mau pecah. Mataku berair, menahan pedih. Aku demam, dua hari ini. Menjelang sidang ujian tugas akhirku, malah ngedrop. Aku memukul-mukul kepalaku, penat.
Aku menyalakan laptopku, menyambungkan ke internet. Aku merutuk kesal, seminggu ini Dika tak mengirim berita sama sekali. Emailku tak satupun dibalas. Aku menekan-nekan kepalaku yang rasanya mau pecah. Aku menyerah, aku mematikan laptopku.
Malam ini aku tidur dengan gelisah.

Ruang sidang E3, 19 Mei.
“Diis, selamat ya.” Aira menyambutku, ketika aku keluar dari ruang sidang. Wajahku kusut, aku melepas jas almamaterku.
“Makasih ya Ra.” Ucapku, lalu duduk dibangku sebelahnya.
Aira senyam-senyum. “kenapa kamu?” tanyaku.
“Gak papa, Dika datang kan hari ini?”
Aku menggeleng. Aku mengaduk isi tasku, meraih handphoneku. Ada tiga kali panggilan terlewatkan dan satu pesan masuk.


Mas Rudi +81333295xxx
Dis, kalau sudah selesai ujian sms balik ya.

Aku mengernyit, tumben Mas Rudi telpon dan sms. Saat aku akan menekan tombol call di contact Mas Rudi, ada panggilan masuk.
Mas Rudi calling.
“Halo”
“Iya, baru selesai.”
“Dimana?”
“Gak perlu, aku saja yang kesana. Iya, mas tunggu saja di parkiran.”
Mas Rudi call ended.
Aira menatapku heran, “Mau kemana?.”
“Aku ditunggu mas Rudi, aku balik dulu ya Ra. Makasih udah nemenin. Traktirannya nanti ya.” Kataku nyengir. Aira tertawa, “Iya.”
Aku berlalu meninggalkan Aira, dan menuju tempat parkir di belakang gedung E3.

Di sebuah kamar.
Aku duduk di ruangan ini sendiri. Beberapa foto menceritakan pemilik kamar ini. Di sudut meja itu, ada buku bersampul merah maroon. Aku tergugu, air mataku kering.
“Maafkan Tante, bukan ingin merahasiakan atau apa. Tante pun baru tahu semua ini seminggu yang lalu. Tante, tahu juga saat Dika sudah di Surabaya seminggu yang lalu. Dika tak pernah bercerita soal sakitnya.”
Aku tak menjawab. Aku limpung.
Wanita yang sedang menenangkanku itu pun menangis tergugu, memelukku erat. Sementara aku hanya diam. Entah kemana kesedihanku.
Tak ada air mata, yang aku tahu sebagian hatiku telah pergi sebelum aku mengucapkan bahwa aku mencintainya.

Epilog :
15 Mei, di sebuah Dorm.
“Dika, aku telpon keluargamu ya?”
Laki-laki itu hanya menggeleng. Wajahnya sepucat mayat.
“Kamu gak mungkin menyembunyikan ini semua sendiri Dik.”Katanya kesal.
Sementara Dika, masih menggigil menahan sakit. Temannya merenggut kesal, dan berniat meninggalkannya dan meraih handphonenya.
Dika meraih tangannya, menahannya untuk pergi.
“Kamu boleh menelpon Papaku, tapi jangan sampai Mamaku tahu. Apalagi Disti, dia sedang berjuang sekarang. Aku berjanji akan pulang tanggal 19 nanti.” katanya parau. Sebelum akhirnya, ia pingsan.


Pasuruan, 12 Maret 2014.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar