Langsung ke konten utama

Ooooh... Stomatitis Aphtous



Kantor masih sepi pagi itu, Safei office boy di kantor tersebut berjalan pelan ketika memasuki ruangan kaca tersebut. Saat menyapa pemilik ruangan pun tampak ragu, melihat keseriusannya ia merasa tak enak juga. Safei permisi untuk membersihkan meja pemilik ruangan itu. Disty, sang pemilik meja meninggalkan ruangan tanpa tersenyum seperti biasanya. Safei menatap bingung, mungkin Dia merasa aneh, Disty karyawan paling ramah kepada semuanya menjadi pelit senyum dan berkesan angkuh.
“ Mbak, mejanya sudah bersih “ katanya seraya menunduk takzim, sambil mengangkat ember berisi air bekas mengepel.
Lagi-lagi Disty meninggalkan sang office boy tanpa senyum dan ucapan terima kasih seperti biasanya. Ragu Safei meninggalkan ruangan itu. Sekali lagi Dia menoleh kearah Disty yang sudah duduk dikursinya dan kembali memelototi entah apa yang ada di layar komputer tersebut.  Dari luar ruangan Safei melihat Disty mengusap matanya yang ia yakini sebagai air mata dan ia tahu Disty menahan sakit.
“ Mbak, ini dokumen laporan kas harian Depo Jember. Tinggal menunggu verifikasi dari mbak Disty. Hasil rekonsialisasi kasnya sudah saya email kemarin. “ kata Fania sambil menyerahkan tumpukan laporan itu di meja Disty.
Disty tak menjawab tetapi dari sorot matanya mengisyaratkan agar Fania menaruh laporan tersebut di mejanya. Fania menurut.
“ Mbak...” kata Fania ragu.
“ Hmmmm...”
“ Gak jadi deh mbak, Fania permisi dulu ya “ pamit Fania, lalu meninggalkan ruangan Disty ragu. Ia tahu, supervisornya itu sedang menyembunyikan sesuatu. Dan ia yakin itu pasti sangat menyiksanya, karena tak ada yang dapat menghapus senyum seorang Disty jika itu bukan masalah yang berat.
Sudah dua hari ini Disty berubah. Teman sekantornya mulai panik dan bertanya-tanya ada apa gerangan sehingga Disty menjadi pendiam. Bahkan OfficeBoy dikantornya pun ikut penasaran.
Tak ada lagi senyum, salam dan sapa menyenangkan dari Disty. Disty yang ceria menjadi pemurung dan terkesan angkuh. Bahkan terlihat sering menangis, hal pantang yang dilakukan seorang Disty.
Seperti siang itu, ketika Disty makan siang di Pantry kantornya. Bersama dua team kesayangannya Fania dan Nana.
“ Mbak menu katring hari ini apa? “ tanya Nana hati-hati takut kalau salah bicara.
Disty tak menjawab, ia hanya mengangkat bahu. Lalu membuka kotak makan tempat kateringnya.
“ Wah Bakmoy. Enak nih mbak “ ucap Nana histeris.
“ Hmmm, pasti enak nih. Sambal petisnya pasti pedas. Lezaaattt....favoritenya mbak kan ? “ Fania menambahkan.
Disty tak berkomentar apa pun. Tangannya sibuk menuangkan kuah bakmoy dalam mangkok makannya. Lalu mancampurnya dengan sambal petis, dan potongan ayam serta telur.
Baru sesuap Disty menyendok bakmoynya. Tiba-tiba Disty meletakkan sendoknya. Matanya berair menahan tangis, bukan menahan tapi sudah menangis. Fania dan Nana yang menyadari itu bertatapan bingung.
“ Kenapa mbak ? “ tanya Nana panik.
“ Terlalu pedas ya ? “ sahut Fania.
“ Atau tidak enak ? “ tambah Nana tak kalah panik.
“ Hiks “ Disty menangis, lalu meninggalkan bakmoynya tanpa menjawab pertanyaan Nana dan Fania yang kini kebingungan melihat ekspresi Disty.
“ Hmmm, sepertinya mbak Disty benar-benar sedang patah hati dech Na...lihat saja, dia bahkan sampai meninggalkan makanan kesukaannya. Ini Bakmoy Na, sestress apa pun mbak Disty tidak pernah meninggalkan makanannya. Ingat kata mbak Disty pantang tidak menghabiskan makanan, apalagi ini tidak menyentuh makanan sama sekali...gawat benar-benar gawat “ kata Fania, selepas Disty pergi.
“ Tapi masak sih, mbak Disty patah hati. Aku rasa hubungan dia dan mas Kiki baik-baik saja. Kemarin aku lihat mas Kiki menjemput mbak Disty, bahkan pulangnya sempat mampir kerumahku nganterin sarang semut. Hehehehe... “ elak Nana.
“ Loh siapa tahu kan Na ? “
“ Iya juga sih, tapi aku kok gak yakin ya?  “ Ucap Nana bimbang.
“ Terus kenapa dong ? melihat mbak Disty seperti itu aku jadi tidak tega. Kasihan, kalo seperti ini aku jadi kangen dengan cerewetnya mbak Disty. Dibentak-bentak masalah laporan tidak settle pun aku ikhlas Na “ kata Fania menyakinkan.
“ Bener Fa, aku juga kangen dengan omelannya mbak Disty terus tawa renyah mbak Disty. Tapi kenapa ya mbak Disty berubah? Apa masalah kantor ya ? tapi masak sih ? kalau masalah kantor mbak disty pasti cerita “ ucap Nana sangsi.
“ Bisa saja kan Na, siapa tahu ada masalah kantor dan kita tidak boleh tahu. Dan hal ini bener-bener bikin mbak Disty stress sampai dia gak enak makan dan tersiksa banget. “ Fania berandai-andai.
“ kamu kok yakin banget Fa ? “
“ Loh semua kemungkinan kan bisa saja terjadi kan Na ? Untuk memastikan kamu tanya mbak Disty gih, kamu kan teman curhatnya. Mbak Disty selalu cerita kalau ada apa-apa sama kamu “
“ Aku ??? “
“ ya..iya..lah “
Nana manyun, sementara Fania tertawa ngakak.
Disty sedang merapikan laporan yang berserakkan di mejanya ketika Nana muncul diruangannya. Tanpa permisi Nana duduk dikursi dekat meja Disty.
“ Mbak, sibuk ya ? “ tanya Nana basa-basi.
“ Kenapa ? “ Disty balik tanya.
“ Mbak Disty ada masalah ya ? “ tanya Nana hati-hati.
Disty menghentikan acara bersih-bersihnya, lalu melihat Nana. Menggeleng, lalu kembali membereskan mejanya.
“ Masak sih? mbak Disty bohong. Nana sering melihat mbak Disty menangis. Ayolah mbak, cerita ke Nana siapa tahu Nana bisa bantu, atau setidaknya dengan bercerita mbak Disty akan lebih tenang “ bujuk Nana.
“...”
“ Kok diam, tuh kan Nana paling tahu mbak Disty. Mbak diam saja itu berarti ada masalah. Mbak tidak bisa berbohong dengan Nana. Ayo jujur, ada apa sebenarnya? Ada masalah dengan mas Kiki kah ? “ Nana mulai merajuk.
Disty hanya menggeleng, tanpa tersenyum meyakinkan seperti biasanya. Nana menghela nafas, putus asa. Lalu meninggalkan ruangan Disty tanpa penjelasan apa pun. Nana menoleh kearah Disty sebelum benar-benar meninggalkan ruangan itu. Pun demikian Disty tetap bungkam. Dan ketika ia sudah diluar ruangan kaca itu Ia melihat jelas Disty mengusap air matanya.
“ Duuuh, mbak Dis...ada apa sih ? “ batin Nana kesal.
Keadaan Disty semakin menyedihkan. Disty tak lagi bicara, dan lebih sering terlihat bengong di dalam ruangannya dan parahnya Disty tak lagi menyentuh makan siangnya. Teman satu kantornya pun ikut bingung, Fania dan Nana tak tahu lagi bagaimana membujuk Disty agar mau berbagi cerita tentang kesedihannya. Bahkan Disty pun ikut membuat bingung pak Satria Finance Accounting Manager dikantornya.
“ Ada masalah apa Disty ? kok dia tiba-tiba menjadi manusia introfert, pendiam, dan angkuh seperti itu ? “ tanya pak Satria ketika menandatangani berkas yang diserahkan oleh Fania.
“ Saya juga tidak tahu pak, sudah empat hari ini mbak Disty tidak mau bicara kepada kami. Bahkan saya sempat berpikir mbak Disty marah kepada saya. Kemarin waktu Nana tanyakan hal ini kepada mbak Disty, dia tidak menjawab hanya menggelengkan kepala menyatakan bahwa dirinya baik-baik saja padahal jelas sekali kalau Ia tidak dalam keadaan baik. “ jelas Fania.
Pak satria mengangguk, berpikir.
“ Lalu menurutmu kita harus bagaimana ? “ tanya pak Satria. Fania mengangkat bahu, tak mengerti.
Hari ini tepat lima hari Disty melancarkan aksi diamnya. Aksi mogok bicara Disty benar-benar membuat kelimpungan teman kantornya. Bagaimana tidak, Disty tak mau bicara sama sekali. Bahkan anak-anak cabang pun ikut bingung. Terutama staff administrasi di Depo. Karena merekalah yang paling sering terkena komplain dari Disty. Dari laporan yang telat, laporan yang tidak settle, dan lain sebagainya. Tapi sudah lima hari ini mereka tak menerima telfon komplain dari Disty.
Maka pagi ini sebelum mereka sibuk dengan pekerjaan masing-masing pak Satrio memanggil Disty, Fania dan Nana diruangannya. Ia ingin segera menyelesaikan masalah ini.
“ Kalian tahu kenapa kalian bertiga saya panggil ? “ tanya pak Satria. Yang ditanya saling pandang bingung.
“ Saya memanggil kalian untuk berkumpul disini untuk meluruskan masalah yang terjadi diantara kita. Terutama kamu Disty “
Disty terkejut namanya disebut.
“ Benar, kamu...saya mendapat kabar bahwa kamu banyak berubah akhir-akhir ini. Saya tahu hak kamu untuk tidak mengungkap masalah pribadi kamu disini. Tapi tahukah kamu sikap kamu ini sangat mengganggu kinerja kita “
Disty menunduk, Nana dan Fania saling pandang prihatin.
“ Bagi kamu ini tak ada masalah, tapi bagi Nana, Fania terutama saya sikap diam kamu sangat mengganggu. Sebenarnya saya tak ingin capek-capek  memikirkan kenapa kamu berubah, tapi karena kamu adalah tim saya akhirnya saya pun ikut memikirkan kenapa kamu berubah. Saya tidak ingin menebak-nebak apakah sikap kamu kali ini adalah wujud protes atau apalah namanya itu. Saya memanggil kamu disini bersama Nana dan Fania adalah untuk meminta penjelasan dari kamu atas aksimu ini “ jelas pak Satria.
Disty memandang pak Satria, Fania dan Nana bergantian. Sementara Nana meraih tangan Disty seakan memberi dukungan. Fania mengangguk mengisyaratkan agar Disty untuk bicara.
Butuh waktu lima menit untuk menunggu Disty berbicara, mungkin Ia perlu memikirkan kata-kata yang tepat agar mereka yang disini tak ada yang kecewa atas kenyataaan yang ada.
“ Maaf...” katanya pelan.
“....”
Nana dan Fania menahan nafas, tak sabar menunggu kelanjutan kalimat Disty yang menggantung. Sementara pak Satria meremas-remas baku tangannya berusaha tenang, meski dalam pikirannya telah muncul beberapa kemungkinan.
“ Aaakku...sarri...awaan.., owww.. “ ucap Disty lalu diikuti desisan menahan sakit.
“ Apppa...??? “ tanya mereka bertiga bersamaan.
“ Sha..riiii..aawwwan..., shaa..khiiit..” ulang Disty.
Nana Menepuk jidatnya. Sementara Fania bengong. Pak Satria menggeleng tak mengerti. Ternyata hanya sariawan yang membuat Disty bertahan tidak bicara selama hampir satu minggu ini. Dan sariawan yang membuat hampir seluruh penghuni kantor ini ikut dibuat bingung.
“ Aduuuh, mbak Dis ini ngomong dung kalo sariawan. Bikin bingung saja “ Ucap Nana, dikuti tawa Fania dan pak Satria.
Sementara demi penjelasan itu Disty sekarang menahan perih sariawannya. Sakit, tapi juga bahagia ternyata Dia begitu diperhatikan oleh teman-temannya. Maka meski sakit ia pun ikut tertawa, bukankah itu yang selama ini dirindukan teman-temannya ?.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

#TantanganMenulis no. 2; Serenade.

A piece of music sung or played in the open air, typically by a man at night under the window of his lover. Kalau ditanya apakah dinyanyikan sebuah lagu membuatku jatuh cinta? jawabnya adalah tidak, malu iya. Entah malunya kenapa. Saya adalah sepersekian persen cewek yang sedikit risih kalau ada yang bersikap romantis di depan saya, entah itu pasangan atau hanya gebetan. Tapi ada satu orang dulu yang nekat menyanyikan sebuah lagu untuk saya, lengkap dengan genjrengan gitarnya. Di tengah malam saat saya sudah mulai mengantuk, dia adalah W, sebut saja begitu. Waktu itu masih ingat saya masih unyu-unyunya, memasuki semester tiga, jadi enggak salah kan kalau saya bilang masih unyu? *okay abaikan* Jadi W ini, adalah cowok yang ceritanya lagi PDKT dan dia termasuk cowok yang paling pantang menyerah. Entah ada angin apa W, tiba-tiba menelpon tengah malam saat kita lagi asyik SMS an enggak jelas. Iya, enggak jelas dia adalah cowok yang paling sabar ngeladeni obrolan absurd saya. Dia SMS.

Coklat dan Kamu

Gambar diambil dari google.com Apa hubungannya kamu dan coklat? Karena difinisi tentang kamu adalah coklat. Seperti coklat, kamu adalah pemilik rasa yang komplit dalam hidupku. Pahit dan manis. Itulah alasan kenapa aku memilih coklat saat aku bahagia maupun bersedih, seperti aku memilihmu saat ini. Kamu seperti coklat, menenangkanku ketika aku rapuh. Kamu seperti coklat, memberi rasa pahit ketika aku merindu. Kamu seperti coklat, CANDU!! Di sudut Kamar =)

Terima Kasih Twitter, Kamu Membuat Saya Tetap Waras

copyright pexels Jika ada ajang award untuk pemilihan sosial media paling baik, maka saya akan memilih twitter. Mengapa demikian? Platform dengan logo burung ini memang favorite saya sejak tahun 2009. Tempat saya nyampah, tentu saja selain di blog ini. Twitter selalu menyenangkan bagi saya. Ketika banyak orang berpindah ke Path saya tetap bertahan di sini. Ketika semua orang sibuk memperbaiki feed instagram, saya masih setia dengan si 'burung' ini. Iya, karena twitter membantu saya tetap waras. Bahkan, ketika tahun 2013 saat saya memutuskan untuk deactivated akun perihujan_ pun hanya bertahan beberapa bulan saja. Saya kembali membuat akun baru dan beruntung perihujan_ kembali menjadi milik saya kembali. Hahaha. Twitter membuat saya tetap waras. Ketika banyak orang menganggap remeh orang-orang yang memilih curhat di sosial media. Katanya; "kurang perhatian ya?" Tidak selamanya twit super galau dan mengenaskan yang saya tulis adalah isi hati saya. B