Langsung ke konten utama

Hari ini, lima tahun yang lalu.

Hari ini lima tahun yang lalu, agak lebay ya taglinenya? hehehe, sungguh saya sedang tidak mereview cinta yang sudah lewat atau mantan yang sudah berstatus suami orang :)
Yeah, hari ini lima tahun yang lalu saya memutuskan untuk hijrah ke Pasuruan walau awalnya karena kota ini adalah jodoh saya untuk menjemput rejeki untuk pertama kalinya. Adalah saya, yang siang itu tampak ling-lung di depan kantor PLN Pasuruan mencari-cari alamat yang diberikan oleh manajer saya. Mencari-cari daerah bernama Karang ketug itu mana? drama pun dimulai *jreng-jreng*. Pasuruan adalah kota yang asing untuk saya, untuk seorang Ayu yang tahunya hanya Malang dan Malang. Untuk seorang bontot yang tidak pernah lepas dari kawalan mbak dan mas yang terkadang (agak) terlalu protektif. Maka 12 Mei 2008 adalah hari bersejarah saya, hari dimana saya memutuskan untuk tetap survive di kota yang penduduknya tidak ada yang saya kenal.
Kalau diingat-ingat awal memutuskan untuk menurunkan gengsi dan sikap kuekeh untuk bekerja di Malang adalah rasa kecewa, dan ingin melupakan. Sedikit drama memang, tapi itulah kenyataan. Akhirnya setelah melakukan perjuangan saya diterima bekerja di Pasuruan.
Hari pertama saya bekerja di Pasuruan lebih banyak saya isi dengan menangis dan mengeluh, tiap telpon ke rumah isinya keluhan soal air di mess yang kuning lah, makanan yang terlalu asin lah dan betapa saya sangat kesepian. Tiap mendekati weeknd sibuk menyusun jadwal pulang. Tabiat anak bontot banget ya? :)
Itu adalah bulan pertama saya bekerja dan benar-benar jauh dari keluarga.
Sampai akhirnya saya bertemu mereka. Mereka yang mengerti saya, menjadikan Pasuruan tak lagi buruk.


Me, Mbak Murti & Mbak Luluk

Akhirnya setelah masa itu lewat, saya semakin mencintai kota ini. Pasuruan, dengan semua remeh temehnya. Pasuruan tempat saya dengan leluasa tanpa sibuk memikirkan harus kemana untuk membuang penat. Pasuruan yang tak pernah membuat saya sibuk memikirkan saya harus berangkat jam berapa agar tak terjebak macet. Pasuruan yang tetap setia dengan abang becaknya.
Lima tahun, entah tahun depan masihkah ada cerita seperti ini. Tahun depan masihkah saya menikmati jalanan yang ruwet disekitaran alun-alun tiap malam selasa? Apakah tahun ini saya harus mengakhirinya, seperti yang hampir saya lakukan setahun yang lalu?

Pasuruan? untuk saat ini ijinkan saya untuk menikmati pesonamu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

#TantanganMenulis no. 2; Serenade.

A piece of music sung or played in the open air, typically by a man at night under the window of his lover. Kalau ditanya apakah dinyanyikan sebuah lagu membuatku jatuh cinta? jawabnya adalah tidak, malu iya. Entah malunya kenapa. Saya adalah sepersekian persen cewek yang sedikit risih kalau ada yang bersikap romantis di depan saya, entah itu pasangan atau hanya gebetan. Tapi ada satu orang dulu yang nekat menyanyikan sebuah lagu untuk saya, lengkap dengan genjrengan gitarnya. Di tengah malam saat saya sudah mulai mengantuk, dia adalah W, sebut saja begitu. Waktu itu masih ingat saya masih unyu-unyunya, memasuki semester tiga, jadi enggak salah kan kalau saya bilang masih unyu? *okay abaikan* Jadi W ini, adalah cowok yang ceritanya lagi PDKT dan dia termasuk cowok yang paling pantang menyerah. Entah ada angin apa W, tiba-tiba menelpon tengah malam saat kita lagi asyik SMS an enggak jelas. Iya, enggak jelas dia adalah cowok yang paling sabar ngeladeni obrolan absurd saya. Dia SMS.

Coklat dan Kamu

Gambar diambil dari google.com Apa hubungannya kamu dan coklat? Karena difinisi tentang kamu adalah coklat. Seperti coklat, kamu adalah pemilik rasa yang komplit dalam hidupku. Pahit dan manis. Itulah alasan kenapa aku memilih coklat saat aku bahagia maupun bersedih, seperti aku memilihmu saat ini. Kamu seperti coklat, menenangkanku ketika aku rapuh. Kamu seperti coklat, memberi rasa pahit ketika aku merindu. Kamu seperti coklat, CANDU!! Di sudut Kamar =)

Terima Kasih Twitter, Kamu Membuat Saya Tetap Waras

copyright pexels Jika ada ajang award untuk pemilihan sosial media paling baik, maka saya akan memilih twitter. Mengapa demikian? Platform dengan logo burung ini memang favorite saya sejak tahun 2009. Tempat saya nyampah, tentu saja selain di blog ini. Twitter selalu menyenangkan bagi saya. Ketika banyak orang berpindah ke Path saya tetap bertahan di sini. Ketika semua orang sibuk memperbaiki feed instagram, saya masih setia dengan si 'burung' ini. Iya, karena twitter membantu saya tetap waras. Bahkan, ketika tahun 2013 saat saya memutuskan untuk deactivated akun perihujan_ pun hanya bertahan beberapa bulan saja. Saya kembali membuat akun baru dan beruntung perihujan_ kembali menjadi milik saya kembali. Hahaha. Twitter membuat saya tetap waras. Ketika banyak orang menganggap remeh orang-orang yang memilih curhat di sosial media. Katanya; "kurang perhatian ya?" Tidak selamanya twit super galau dan mengenaskan yang saya tulis adalah isi hati saya. B