Minggu, 12 Mei 2013

Hari ini, lima tahun yang lalu.

Hari ini lima tahun yang lalu, agak lebay ya taglinenya? hehehe, sungguh saya sedang tidak mereview cinta yang sudah lewat atau mantan yang sudah berstatus suami orang :)
Yeah, hari ini lima tahun yang lalu saya memutuskan untuk hijrah ke Pasuruan walau awalnya karena kota ini adalah jodoh saya untuk menjemput rejeki untuk pertama kalinya. Adalah saya, yang siang itu tampak ling-lung di depan kantor PLN Pasuruan mencari-cari alamat yang diberikan oleh manajer saya. Mencari-cari daerah bernama Karang ketug itu mana? drama pun dimulai *jreng-jreng*. Pasuruan adalah kota yang asing untuk saya, untuk seorang Ayu yang tahunya hanya Malang dan Malang. Untuk seorang bontot yang tidak pernah lepas dari kawalan mbak dan mas yang terkadang (agak) terlalu protektif. Maka 12 Mei 2008 adalah hari bersejarah saya, hari dimana saya memutuskan untuk tetap survive di kota yang penduduknya tidak ada yang saya kenal.
Kalau diingat-ingat awal memutuskan untuk menurunkan gengsi dan sikap kuekeh untuk bekerja di Malang adalah rasa kecewa, dan ingin melupakan. Sedikit drama memang, tapi itulah kenyataan. Akhirnya setelah melakukan perjuangan saya diterima bekerja di Pasuruan.
Hari pertama saya bekerja di Pasuruan lebih banyak saya isi dengan menangis dan mengeluh, tiap telpon ke rumah isinya keluhan soal air di mess yang kuning lah, makanan yang terlalu asin lah dan betapa saya sangat kesepian. Tiap mendekati weeknd sibuk menyusun jadwal pulang. Tabiat anak bontot banget ya? :)
Itu adalah bulan pertama saya bekerja dan benar-benar jauh dari keluarga.
Sampai akhirnya saya bertemu mereka. Mereka yang mengerti saya, menjadikan Pasuruan tak lagi buruk.


Me, Mbak Murti & Mbak Luluk

Akhirnya setelah masa itu lewat, saya semakin mencintai kota ini. Pasuruan, dengan semua remeh temehnya. Pasuruan tempat saya dengan leluasa tanpa sibuk memikirkan harus kemana untuk membuang penat. Pasuruan yang tak pernah membuat saya sibuk memikirkan saya harus berangkat jam berapa agar tak terjebak macet. Pasuruan yang tetap setia dengan abang becaknya.
Lima tahun, entah tahun depan masihkah ada cerita seperti ini. Tahun depan masihkah saya menikmati jalanan yang ruwet disekitaran alun-alun tiap malam selasa? Apakah tahun ini saya harus mengakhirinya, seperti yang hampir saya lakukan setahun yang lalu?

Pasuruan? untuk saat ini ijinkan saya untuk menikmati pesonamu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar