Selasa, 29 November 2011

Aku, Kamu..dan sendiri

          Hujan selalu mengingatkanku tentang Dia.
          Siang ini hujan, seperti kemarin hari ini pun aku sedang termangu di depan monitor laptopku. Mengingat Dia di setiap ruang memoriku, tentang Dia yang begitu aku cintai. Cerita tentang Dia, Mbuletku. Seseorang yang saat ini begitu aku rindukan, sampai aku lupa bahwa aku harus melupakannya.
...
          “ Kenapa lagi? “ tanyaku, yang masih setengah sadar karena terbangun dari tidur siangku. Setelah pakde memanggilku memberitahu kalau ada telpon. Dan telpon itu dari Disty, yang sejak pertama kali telpon isinya hanya keluhan kenapa dia datang terlambat.
 “ Tadi kan W sudah bilang berangkatnya jangan mepet. Jadinya telat kan ? “ kataku menasehati, sambil memilin kabel telpon. Setengah sadar, bersandar di kursi dekat meja telpon.
          “ Kok W bilang gitu sih? malah nyalahin D “ suara diujung sana bersiap marah.
          “...”
          “ D benci W “  protesnya, dan telpon diputus.
          Aku menatap horn telpon, tak mengerti. Selalu seperti itu, setiap telpon selalu diakhiri dengan pertengkaran hal-hal yang tidak penting. Perhatianku disalah artikan sebagai sikap menggganggunya, tapi semua tak merubah perasaanku padanya,  aku tetap menyayanginya.
...
          Namanya Adistya Gisantia Putri, biasa dipanggil Disty dan aku memanggilnya D seperti ia biasa memanggilku W, Wahyu Poernomo. Aku mengenalnya lewat situs jejaring facebook, ya berawal dari saling komen dan saling sapa di wall akhirnya kami dekat dan kebetulan kita tetangga kampus maka kami memutuskan untuk bertemu.
          Disty yang ceria, Disty yang hobi seenaknya sendiri, Disty yang penuh kejutan, Disty yang cengeng,  akhirnya membuatku jatuh cinta padanya. Aneh memang karena aku baru mengenalnya, aku merasa nyaman dan betah menelfonnya berlama-lama, menghabiskan waktu dengan membalas sms yang kadang tidak penting, menemaninya chatting hingga tengah malam dan menemaninya menikmati hujan. Benar menemaninya duduk berjam-jam di teras rumahnya, menikmati hujan ditemani secangkir coklat.
          Disty memang pecinta hujan sejati, katanya hujan itu romantis, nyanyian paling merdu dan karena hujan dapat memahami arti kata rindu secara jujur. Aku tertawa mendengar alasan kenapa Dia begitu menyukai hujan. Dan kini sejak kehilangan Dia aku pun menyukai hujan, dan aku mengerti kenapa ia pernah mengatakan bahwa hujan memahami betul apa itu rindu.
          Aku memangilnya dengan D Mbuletku, ya karena dia teramat mbulet. Aku dipaksanya untuk mengikuti semua permainannya dengan menggantungkan hubungan tidak jelas ini. Kami berteman tapi mengapa kami saling mengucap rindu, kami berteman tapi mengapa kami saling bergantung? Merasa sepi ketika sehari saja tak mendengar suara diantara kami.
          “ Kenapa D tidak pernah menjawab pertanyaanku ? Kenapa D tidak mau pacaran denganku ? Apa yang salah dengan hubungan kita ? apa yang membuatmu ragu D? “ tanyaku siang itu.
          “ ...”
          “ Kenapa diam? beri aku kepastian D. Aku tulus mencintaimu, tak bisakah kamu menberiku kesempatan D? Setidaknya berikan aku alasan kenapa aku harus bersabar dengan semua ini? “ kataku, suaraku tercekat berusaha menyembunyikan perihku.
          “ Sudahlah W...kita bahas yang lain saja ya, D gak mau bahas ini. Sudah sering D katakan, bagi D ini sudah cukup W. Hubungan seperti ini “ katanya pelan.
          Aku diam tak menjawab, dari suaranya jelas ia akan menangis.
          “ W...kok diam sih, marah ya? “ rajuknya, dan kini dia menangis.
          “ D “
          “ W “
          “ D “
          “ W “ dan aku semakin jelas mendengar tangisnya.
          “ Iya kita bahas yang lain saja “ dan selalu aku mengalah. Selalu menerima digantung. Sampai kapan aku berlari mengejarmu D?.
...
          Siang itu aku tebangun dengan dering handphoneku yang bernyanyi lagu andai ku tahu milik Ungu. Di layar handphoneku terpampang nama MbuletQ, aku menjawab dengan suara serak khas orang bangun tidur.
          “ W..” suaranya menahan tangis.
          “ Ya, ada apa D “ tanyaku khawatir.
          “ Hiks “
          “ D, kenapa? Kok nangis “ tanyaku khawatir. D bukannya berhenti menangis, dia malah menangis. Aku diam, menunggunya bercerita kenapa ia tiba-tiba mengagetkanku dengan tangisannya.
          “...”
          Setelah hampir sepuluh menit aku hanya diam mendengarkan tangisnya akhirnya aku menyelah tangisnya.
          “ D sekarang ada dimana ? aku kesana ya? “
          “ Aku dirumah. “
          Tanpa menunggu nanti Aku segera meluncur kerumahnya yang berada di daerah Mertojoyo, siang itu hujan belum juga reda tak mengurangi niatku untuk menemui Disty. Aku yakin dia butuh teman.
          Disty masih menyimpan tangis ketika aku sampai dirumahnya, dia hanya diam duduk disebelahku. Bahkan ketika menyerahkan handuk untuk megeringkan rambut dan tubuhku yang basah karena hujan ia tak berkata sekecap pun.
          Sepi, dan selalu seperti ini.
          “ Ada apa sebenarnya D ? “ tanyaku lembut, berharap ia melunak dan mau bicara padaku. Tapi aku gagal, D tetap bungkam. Dan aku pun ikut diam. Sampai teh yang dihidangkannya sudah dingin, ia tak juga bicara.
          “ W, D capek..” katanya tiba-tiba.
          “ Eh, capek? kenapa ? “ tanyaku tak mengerti.
          “ Jangan bersikap seperti ini dengan D ya? D benar-benar capek. D, gak mau seperti ini. D gak mau W bersikap seperti ini terus kepada D “ ucapnya dengan isak.
          “ Maksud D ? “ aku tak mengerti.
          “ Jangan buat D cinta dengan W, D gak mau “ katanya seraya menggeleng.
          “ D..” aku meraih tangannya, dan menggengamnya erat.
          “ D, sayang W bahkan cinta. Tapi itu gak mungkin, jangan bebani D dengan cinta W, perhatian W kepada D. Hal ini bikin D sedih. D gak mungkin bisa menerima itu semua W. Pergi W, hati W terlalu sempurna buat D “ katanya cepat, menyaingi air matanya yang deras mengalir. Wajahnya sudah ditenggelamkan dalam bantal sofa ruang tamunya.
          “ Apa aku salah mencintaimu D ? “ tanyaku.
          “ ... “
          “ Apa yang salah D? apakah aku tak punya hak untuk mencintaimu, apakah semua ini kesalahan? jawab D? lalu aku harus bagaimana agar kamu  cukup mengerti, bahwa aku tak mungkin hidup tanpamu. Dan aku tak perlu memberi alasan kenapa aku begitu mencintaimu D, bagiku D adalah hidupku. Jangan bersikap seperti ini. D boleh kok marah, memukulku, atau apapun asal jangan menyuruhku pergi D“ jelasku.
          “ Tidak, W gak boleh seperti itu..” Disty menggeleng. Air matanya deras menetes. Aku mengambil tissue yang ada dan di meja memberikan kepadanya.
          “ Lalu, D mau aku harus bagaimana? “ tanyaku pelan.
          Disty hanya diam, tanganya sibuk menghapus air matanya. Sungguh aku benci pemandangan ini. Disty mengangkat wajahnya. “ D ingin W jangan menemui D lagi, pergi W. D hanya dapat memberi sayang bukan cinta “
          “ ... “
          “ D, mohon W...D, terlalu...m...” ragu ia berkata, “ terlalu mencintai W..”
          “ Kalau perasaan kita sama, kenapa D menyuruh aku untuk menjauhi D ? “
          Disty tak menjawab, hanya diam. Aku paksapun ia tak menjawab. Hatiku remuk redam, sakit. Sore itu setelah hampir satu jam hanya berdiam duduk disamping Disty aku memutuskan untuk pulang. Waktu itu hujan aku meninggalkan rumahnya, hari itu adalah pertemuan terakhirku dengan Disty. Tak ada lagi telpon, sms, dan chatting tengah malam. Tak ada lagi yang mengomeliku ketika aku telat bangun pagi, tak ada yang merajuk manja agar ditemani melihat hujan diteras rumahnya.
          Disty, D, Mbulet adalah penggalan eposide termanis dalam hidupku. Tak genap satu tahun kami bersama. Hingga hari ini aku tak mengerti kenapa ia tak mau menerimaku meski kami saling mencintai. Seperti apapun Disty, aku tak akan pernah berhenti untuk mencintainya.
         
Pasuruan, 29 November 2011


                  


Kamis, 17 November 2011

Aku, Kamu, dan Kita

Seperti yang sering kamu katakan, hanya waktu yang dapat menghapus kesedihanku. Tidak melupakan, hanya berdamai dengan masa lalu. Aku tak akan pernah bisa melupakanmu, karena kamu begitu berarti untukku, aku terlalu yakin dengan perasaanku, terlalu percaya dengan guratan takdir yang kubuat sendiri. Bahwa Aku dan Kamu akan berakhir KITA.

Sabtu, 12 November 2011

5 Huruf itu bernama CINTA

Tadi sempat bongkar-bongkar file di laptop, menemukan beberapa copy kutipan tentang CINTA. 5 huruf yang tidak pernah habis dibahas.
Ketika kita bertemu orang yang tepat untuk dicintai, ketika kita berada di tempat pada saat yang tepat. Itulah kesempatan.
Ketika kita bertemu dengan seseorang yang membuatmu tertarik. Itu bukan pilihan, itu kesempatan.
Bertemu dalam suatu peristiwa bukanlah pilihan, itupun adalah kesempatan.
Bila kita memutuskan untuk mencintai orang tersebut, bahkan dengan segala kekurangannya. Itu bukan kesempatan, itu adalah pilihan.
Ketika kita memilih bersama dengan seseorang walaupun apapun yang terjadi. Itu adalah pilihan.
Bahkan ketika kita menyadari bahwa masih banyak orang lain yang lebih menarik, lebih pandai, lebih kaya daripada pasanganmu
Dan tetap memilih untuk mencintainya, itulah pilihan.
Perasaan cinta, simpatik, tertarik, datang bagai kesempatan pada kita. Tetapi cinta sejati yang abadi adalah pilihan. Pilihan yang kita lakukan.
Kita mungkin kebetulan bertemu pasangan jiwa kita, tetapi mencintai dan tetap bersama pasangan jiwa kita, adalah pilihan yang harus kita lakukan.
Kita ada di dunia bukan untuk mencari seseorang yang sempurna untuk dicintai TETAPI untukbelajar mencintai orang yang tidak sempurna dengan cara yang sempurna.
Dan ternyata itu puisi favoriteku....CINTA, sederhana dan realistis saja =D

Kamis, 10 November 2011

Rabu, 09 November 2011

Di penghujung siang itu

Dan aku menunggu KAMU disini, hingga pemutaran film pertama berakhir. Dan seharusnya kamu tahu dimana menemuiku.
Mungkin ada yang salah dengan ini semua, atau aku yang salah tempat? atau aku yang terlalu yakin? yang pasti aku tak dapat mendifinisikan perasaanku siang itu. Dan aku seperti manusia bodoh berkali-kali melihat HP berharap satu sms penjelasan, kenapa aku harus menunggu. Berkali-kali mengecek TL berharap ada mention dari kamu untuk menjelaskan apa aku harus pergi atau tetap menunggumu. Meskipun pada akhirnya aku tetap menunggu sampai film berakhir.
Dan siang itu, langit terlalu mendung, meski aku menyukai hujan aku tetap merindukan matahari. Dan berharap hujan tidak turun, aku terlalu takut mengakui kenyataan ini. Ya, aku terlalu yakin dengan perasaanku. Aku terlalu yakin dengan janji itu.

Gambar Diambil disini.

Selasa, 08 November 2011

DComma


D’Comma
By : @A_PujiLestari

Disty melihat deretan angka yang ada pada layar ponselnya. Ragu ia menekan tombol calling, ia menghela napas. Dan memilih mengurungkan niatnya untuk menekan tombol calling. Ia melihat kearah luar. Hujan. Seharusnya ia dapat saja menelpon taxi, tapi ia lebih memilih tetap bertahan di Coffee Bean di lobi kantornya. Sambil mengingat kejadian kemarin sore, kenapa ia memilih untuk mengambil jarak dengan Angga? Seharusnya tak ada hubungannya semua ini dengan Angga. Tapi kenapa ia melibatkannya?

D”Coffee Shop, sore hari

Disty memutar cangkir Coffelatenya. Sementara Angga berdiam menunggu jawaban mungkin penjelasan tepatnya.
Beri aku waktu kak, aku ingin sendiri “
Ada apa sih?, kenapa? Jangan membuatku bingung begini Dis? tanyanya, ia mencondongkan wajahnya mendekat ke arah Disty, dan meraih tangan Disty lalu menggengamnya erat.
“ Tak apa-apa kak, aku hanya perlu sendiri saat ini. Aku mohon jangan hubungi aku untuk sementara waktu ini. Aku perlu sendiri kak, dan tolong jangan tanya mengapa, aku hanya perlu sendiri kak. “ jawabnya cepat, lalu melepaskan genggaman Angga.
“ Dis, namanya Rizky. Orangnya masih muda, seumuran sama kamu katanya dulu dia kuliahnya satu Universitas sama kamu. Kamu dulu di Brawijaya kan ? dia, kuliah S1 nya disana, sebelum akhirnya dia melanjutkan S2 nya di Aussy. Kamu serius tidak mengenalnya ?, kalau gak salah sih dia itu anak salah satu dosen di fakultas kamu. Masak sih kamu gak kenal? Rizky Perdana Abdi “ Kata Arini antusias.
Disty mengelak malas.“ Kurang deh, kalau serius aku maunya sejuta rius dan aku sejuta riusnya  gak kenal yang namanya Rizky itu. Udah ah, ngapain juga membahas orang yang gak jelas gitu. Kalaupun aku kenal nanti juga tahu.
Arini, manyun.
Disty tertawa.
“ Dasar !!! “
Disty menghentikan tawanya, ketika benda warna pink itu bernyanyi. Disty hanya sekilas melihatnya, dan membiarkan benda itu meneriakkan lagu give me wings milik Hadi Mirza.
“ Kok, gak diangkat Dis ? “ Tanya Arini heran. Disty mengibaskan tangannya, meminta agar Arini tak membicarakan hal itu.
“ Lagi bertengkar ? “ tebaknya. “ kenapa lagi?, Angga kurang apa coba, sudah pintar, baik, genteng, mapan, dan yang pasti dia itu cinta mati sama kamu. Kamu tahu gak Dis, lebih baik dicintai daripada mencintai meski kita tahu saling mencintai itu lebih baik. Kenapa tidak mencoba untuk mencintainya? aku rasa tak sulit untuk mencintainya, karena aku tahu Angga tepat untukmu.” Arini menasehati.
Disty tak menjawab, dia meminum jus nya yang tinggal separuh. Dan memilih diam, untuk mengisi waktu yang tersisa dari istirahat siangnya. Dan Arini hanya menghela nafas panjang, tak mengerti. Seandainya Arini tahu masalah ini tak semudah yang ia lihat.
Semenjak berita tentang pergantian manager baru itu santer di bicarakan oleh semua yang ada di divisi kerjanya, Disty tampak murung. Bukan apa-apa namun nama manager baru itu benar-benar mengingatkan ia pada lelaki dari masa lalunya itu. Lelaki yang bertahun-tahun ia paksa untuk menjauhi pikirannya. Nama itu mengingatkan Ia dengan lelaki yang membuatnya kalah dengan air mata, lelaki yang membuat Ia di benci oleh orang lain. Lelaki yang membuatnya menjadi orang lain.  Di saat ia mulai melupakan nama itu, sosok itu hadir lagi, meski belum pasti kebenarannya.
Disty menyusut air matanya, dan menghapusnya dengan tissue. Sebenarnya ia ingin menceritakan semua masalah itu dengan Angga cowoknya, tapi dia ragu. Dia tidak ingin mengecewakan cowok itu dengan curhat masalah cowok yang paling dia cemburui, meski Angga tak pernah mengatakan bahwa ia sama sekali tak menyukai tentang semua hal yang berhubungan dengan Rizky. Disty merasa bersalah juga, dengan bersikap cuek pada cowoknya. Padahal, Angga tidak ada hubungannya dengan hal ini. Cukuplah selama tujuh tahun Angga berusaha menjadi teman yang baik mendengarkan curhat Disty mengenai lelaki itu.
Disty melihat cincin yang melingkar di jarinya, dia tiba-tiba merasa merindukan Angga. Kenapa ia begitu sulit untuk terbuka dengan Angga.
Batavia cafe, tujuh tahun silam.
          Disty memutar-mutar sendok choco perfaitnya. Gugup. Sementara Rizky tak berhenti memandanginya. Mirip adegan polisi yang sedang mengiintrogasi tersangka kejahatan.
          “ Ya, inilah aku. Aira yang kamu kenal selama ini. Aira yang kamu kenal sebagai seorang mahasiswi perantauan dari Bandung padahal asli malang seperti kamu, Aira mahasiswi Airlangga padahal sama seperti kamu mahasiswi Brawijaya. Aku Adistya Gisantia Putri bukan Aira, mulai sekarang tak ada lagi Aira. Maaf aku berbohong padamu “ jelas Disty taku-takut.
          Sementara Rizky tak berkomentar apapun, wajar saja dia marah karena terang-terangan dibohongi oleh Disty. Disty yang mengaku temannnya yang berbeda kampus ternyata teman satu kampusnya, bahkan satu fakultas. Menelpon hampir tiap hari, mengirimi sms yang kadang tak penting. Dan memaksanya untuk mengikuti permainannya, dan terjebak dalam perasaannya sendiri.
          “ Aku berharap setelah kejadian ini, tak ada lagi teror lagi dari Ajeng dan teman-temannya padaku. Sampaikan maafku padanya, maaf karena telah mengganggumu. Aku janji ini adalah pertemuan terakhir kita. Dan aku janji tak akan pernah menghubungi kamu lagi. Anggap saja kejadian selama setahun ini adalah kebodohanku. Karena aku tahu tak ada pertemanan yang dilandasi kebohongan seperti ini “.
          “ Kenapa kamu melakukan ini semua? “ tanyanya.
          Disty bungkam. Tak mungkin ia mengatakan kalau Dia berbuat seperti ini hanya karena ingin diakui, dianggap ada. Menjadi temannya bagi Disty sudah cukup. Ia sadar Rizky tak akan pernah menganggapnya teman meski mereka satu kampus. Rizky terlalu inggi untuknya. Dan yang pasti Disty tak mungkin mengatakan kalau dia mencintai Rizky.
          “ Kamu belum menjawab pertanyaanku “ katanya tegas.
          “ Karena tak ada satupun alasan yang logis kenapa kita membenci ataupun menyukai seseorang “ jawab Disty pelan.
          Dan mereka kembali terdiam. Terbenam dalam pikiran masing-masing.
          “ Maafkan aku kik...” ucap Disty, lalu meninggalkan tempat itu. Meninggalkan Rizky sendirian.
...
Kriiiingggg….
Telpon di meja kerja Disty berdering. Dengan sigap ia mengangkat telpon tersebut sebelumnya dia melepas headset yang menutupi telinganya.
“ Halo “ jawabnya kalem.
“ Dis, tolong keruangan saya sebentar “ Suara ngebas Pak Darmawan ter dengar di seberang.
“ Baik Pak “ jawabnya singkat.
Disty merapikan pakaiannnya dan melepas headset dan mematikan mp3 dari ipodnya. Dan segera menuju ruangan pak Darmawan Managernya.
Disty mengetuk pintu ruangan Bos nya pelan.
“ Masuk “
Disty membuka pintu yang setengah terbuka itu.
“ Nah, ini dia Disty staff Accounting yang saya ceritakan tadi. Dia juga masih muda, tapi kalau soal pekerjaan jangan diragukan.” Sambut pak Darmawan. Disty tersenyum simpul menyembunyikan semburat merah di pipinya.
“ Dis, perkenalkan ini pak Rizky manager baru kita “ Pak Darmawan memperkenalkan. Laki-laki yang duduk di sofa ruang kerja pak darmawan itu berdiri dan menoleh ke arah Disty.
Disty menggumam berdoa, semoga lelaki yang ada didepannya itu  bukan Rizky yang dia kenal. Tapi ternyata salah, karena yang dilihatnya adalah benar si rambut tin-tin, kacamata itu, tubuh kurus itu, dan lelaki dari masa lalunya.
Tubuh Disty lemas, Disty menggigit bawah bibirnya, kalut.
“ Rizky “ katanya tenang.
“ Disty “ sambutnya.
Rizky, tersenyum dan melihat kearah Disty dengan tatapan teduh sama seperti tujuh tahun yang lalu. Tatapan yang selama ini Dia rindukan dan berusaha ia lupakan.
Pak Darmawan tersenyum, “ Saya harap kalian dapat menjadi tim yang solid, dan dapat meningkatkan kinerja perusahaan. Dan saya yakin kalian dapat menjadi tim yang kompak mengingat kalian satu almamater, bukan begitu pak Rizky ? “
Lagi-lagi Rizky tersenyum, sementara Disty hanya nyengir menyembunyikan kekalutannya.
Selama setengah jam pak darmawan bercerita tentang rencana kerjanya, menahan Disty untuk bertahan di ruangannya.  Dan akhirnya setelah selesai menceritakan tentang mega proyeknya Disty di perbolehkan meninggalkan ruangan pak Darmawan.
Saat dia menutup pintu ruangan Pak Darmawan,Ia menghela napas lega. Tetapi akhirnya dia menangis juga, dia menghentakkan kakinya sebal.
“ Belum-belum aku kok sudah nangis “ runtuknya kesal.
Disty, mengambil Handphone dari saku Blazeernya berharap ada pesan sms disana. Tapi kosong, tak ada sms.
“ Kaaak…” isaknya, seraya menghapus air matanya.
Angin menghempas wajahnya, dingin.
Disty berkali – kali menarik napas panjang, berharap rasa sesaknya segera menghilang. Wajahnya ditekuk, dan tubuhnya merapat ditepi tembok pembatas lantai tertinggi gedung kantornya. Ia tak menyangka hal yang paling Dia takutkan selama tujuh tahun ini terjadi juga. Pertemuannya dengan Rizky. Lelaki yang selama tujuh tahun ini berusaha untuk ia lupakan, dan hampir berhasil.
“ Akhirnya aku menemukanmu juga, setelah bertanya kesana-kemari. Tempat yang ideal untuk semedi ya ? dan seperti yang kamu bilang, tempat itu selalu ada untukmu ? “
Disty tergidik, berharap suara itu bukan milik orang yang paling dia hindari. Tapi ternyata salah, ketika tubuh itu berdiri disampingnya, dia dapat menghirup aroma eau de parfum dengan aroma frezee favoritenya. Aroma, yang selalu mengingatkannya pada hal kenapa dia begitu menyukai hujan. Aroma tubuh yang selalu ia rindukan selama tujuh tahun ini.
“ I am Free…!!!! “ teriak Rizky. Disty tak menghiraukannya dan tak sekilaspun ia melihat ke arahnya. “ Benar kan mbul? “ tanyanya, tanpa menoleh kearah Disty.
Disty menoleh, terkejut. Dia tak menyangka setelah tujuh tahun berpisah Rizky masih memanggilnya mbul – Mbulet. Darahnya berdesir, ada buncahan kebahagiaan disana tetapi Disty kembali mengacuhkannya. Dia tak boleh terjebak dalam perasaan ini.
“ Gak nyangka ya, kita bisa bertemu lagi di sini. Mbulet yang kacau, Mbulet yang hobi memakai sepatu kets bisa juga memakai sepatu high heels dan memakai rok, mbulet yang tomboy bisa juga dandan cewek. Kamu semakin cantik saja, dan tentu saja kamu selalu menarik “ ucapnya, lalu memandang kearah Disty. Ada rona kagum, yang tertangkap dalam ucapannya.
Disty mengibaskan tangannya berharap Rizky tak menyadari wajahnya yang merona merah, “ nyindir ya ? “
“ Ha…ha..ha..masih gak berubah ya mbul ? tetap saja angkuh, dan tidak mau terkalahkan. Tapi itu yang membuatku tak bisa berhenti memikirkan kamu tambahnya.
“ Tujuh tahun sejak peristiwa di Batavia cafe, kamu menepatinya dengan benar-benar tak menghubungiku lagi. Dan kamu begitu tega membuatku menunggu selama itu mbul “
Disty tersenyum. Lalu, mereka kembali terdiam. Disty merapikan rambutnya yang berkibar terkena angin, lalu mengikatnya menjadi satu dengan karet rambut yang ia ambil dari sakunya.
“ Bagaimana kabar Ajeng, Kik ? “ Tanya Disty.
“ Baik “ jawabnya singkat.
“ Sangat baik. Bahkan dia ibu yang baik “ tambahnya cepat.
Disty menoleh ke arah Rizky cepat, kaget. Ibu yang baik ? apakah itu berarti mereka sudah menikah ?. Ada sisi hati Disty yang terluka mendengar kata – kata Rizky barusan.
“ Dia sangat bahagia Mbul, aku merasa tenang melihatnya seperti itu. Aku tak pernah melihatnya sebahagia itu. Aku pikir pada saat hari pernikahannya adalah hari di mana aku melihat Ajeng begitu bahagia, ternyata aku salah. Ajeng malah terlihat lebih bahagia lagi ketika dia menimang bayinya. Kemarin aku tanpa sengaja bertemu dia waktu aku pulang ke Malang. “ katanya lancar, tanpa beban.
Disty melihat kearah Rizky, bingung. “ Kenapa mbul? “ tanyanya heran, melihat Disty begitu terkejut.
“ Aku gak ngerti maksud kamu apa? “ tanyanya bingung.
Oh, jangan – jangan kamu berpikir aku menikah dengan Ajeng? Tentu saja tidak, sudah lama aku putus dengan dia bahkan sebelum aku di nyatakan lulus dari Brawijaya. Aku putus dengannya setelah pertemuan kita di Batavia Cafe.
Disty masih bengong, tak percaya.
“ Ajeng menikah dengan Nugroho. Dan kamu pasti tahu Nugroho kan? tanyanya pelan.
Disty memalingkan wajahnya, getir saat ia mendengar kata – kata itu. Kenapa ia merasa terluka, kenapa ia merasa menyesal mendengar berita tersebut. Mereka putus setelah pertemuannya dengan Rizky di Batavia. Apa maksudnya?. Dan yang masih tak dapat ia percayai adalah Ajeng menikah dengan Nugroho.
“ Dulu aku merasa angkuh dengan perasaanku Mbul, aku malu mengakui kalau aku begitu mengagumimu. Bukan Aira yang ada pada dirimu Mbul. Tapi aku tahu, aku menyukai kamu seutuhnya bukan karena kamu Aira, Aira tidak pernah ada. Hanya ada kamu, hanya mbuletku Adistya Gisantia Putri. Aku menyayangimu mbul, sejak dulu. Maafkan aku mbul, seharusnya aku mengatakan semua ini waktu di Batavia, maaf membuatmu menunggu selama ini. ucap Rizky yang kini mengenggam pergelangan tangan Disty.
Disty bungkam, tak menjawab. Mestinya dia bahagia, kata – kata itu sudah lama dia tungggu. Pengakuan yang dalam blog pribadinya adalah kata ajaib yang dapat merubah wanita merasa dirinya cantik. Tapi kenapa Disty malah menangis?
“ Mbul “ ucapnya lembut, Rizky mengangkat wajah Disty yang tertunduk, menyembunyikan tangisnya.
“ Loh, kok malah nangis sih ? “ tanyanya bingung. Disty membuang muka, menolak tangan Rizky yang berusaha menghapus airmatanya.
Maaf “ ucapnya, lalu berlalu.
“ Jangan pergi, Mbul “ cegah Rizky cepat.
Disty, berhenti sejenak, tanpa menoleh ke arahnya.
“ Aku tak akan melepaskanmu untuk yang ke dua kalinya. Aku gak mau menunggu terlalu lama lagi. Cukup tujuh tahun mbul, akan aku buktikan bahwa aku serius, bahwa aku tulus “ tambahnya cepat.
Disty berlalu, berharap yang dia dengar hanya bagian dari mimpi masa lalunya. Sungguh pun ini nyata Disty tak sanggup menerima kenyataan tersebut. Bagaimana mungkin laki-laki yang sepanjang waktu membuatnya menangis benar-benar mencintainya. Bagaimana mungkin laki-laki yang mengenalnya sebagai orang lain bisa mencintainya dengan tulus?
“ Mbul, Aku mencintaimu….!!!! “ teriak Rizky.
Tapi, Disty tetap berlalu. “ Kalau kamu benar-benar mencintaiku, kenapa kamu biarkan aku menangis Kik?, kenapa kamu membuat aku menunggu?, dimana kamu saat aku rapuh?, dimana kamu saat aku membutuhkan dukungan darimu? “ ucap Disty, tapi hanya ia simpan sendiri.
“ Mbuuuul….” Teriak Rizky.
Teriakan Rizky tak mengurungkan niat Disty untuk berlalu dari tempat itu. Entah, tiba-tiba Dia begitu merindukan sosok Angga. Lelaki yang sempat ia ragukan, lelaki yang sabar menunggunya untuk melupakan Risky, lelaki yang sabar mendengarkan curhatnya tentang betapa Ia merindukan Rizky. Lelaki yang menenangkan tangisnya, ketika Ia ditinggalkan oleh Rizky. Lelaki yang bersabar untuk dicintainya, lelaki yang mengajarkan padanya tentang indahnya saling mencintai.
Disty, mengambil ponsel dari saku bleezernya. Mengetik dengan cepat.
“ I Miss U, Kak…”
Messege sent.
Lalu Ia tersenyum. Selamat datang cinta, ucapnya sambil mengecup cincin yang melingkar di jari manisnya. Ia tak sabar menunggu untuk bertemu dengan Angga.



Pasuruan, 3 November 2011