Selasa, 29 November 2011

Aku, Kamu..dan sendiri

          Hujan selalu mengingatkanku tentang Dia.
          Siang ini hujan, seperti kemarin hari ini pun aku sedang termangu di depan monitor laptopku. Mengingat Dia di setiap ruang memoriku, tentang Dia yang begitu aku cintai. Cerita tentang Dia, Mbuletku. Seseorang yang saat ini begitu aku rindukan, sampai aku lupa bahwa aku harus melupakannya.
...
          “ Kenapa lagi? “ tanyaku, yang masih setengah sadar karena terbangun dari tidur siangku. Setelah pakde memanggilku memberitahu kalau ada telpon. Dan telpon itu dari Disty, yang sejak pertama kali telpon isinya hanya keluhan kenapa dia datang terlambat.
 “ Tadi kan W sudah bilang berangkatnya jangan mepet. Jadinya telat kan ? “ kataku menasehati, sambil memilin kabel telpon. Setengah sadar, bersandar di kursi dekat meja telpon.
          “ Kok W bilang gitu sih? malah nyalahin D “ suara diujung sana bersiap marah.
          “...”
          “ D benci W “  protesnya, dan telpon diputus.
          Aku menatap horn telpon, tak mengerti. Selalu seperti itu, setiap telpon selalu diakhiri dengan pertengkaran hal-hal yang tidak penting. Perhatianku disalah artikan sebagai sikap menggganggunya, tapi semua tak merubah perasaanku padanya,  aku tetap menyayanginya.
...
          Namanya Adistya Gisantia Putri, biasa dipanggil Disty dan aku memanggilnya D seperti ia biasa memanggilku W, Wahyu Poernomo. Aku mengenalnya lewat situs jejaring facebook, ya berawal dari saling komen dan saling sapa di wall akhirnya kami dekat dan kebetulan kita tetangga kampus maka kami memutuskan untuk bertemu.
          Disty yang ceria, Disty yang hobi seenaknya sendiri, Disty yang penuh kejutan, Disty yang cengeng,  akhirnya membuatku jatuh cinta padanya. Aneh memang karena aku baru mengenalnya, aku merasa nyaman dan betah menelfonnya berlama-lama, menghabiskan waktu dengan membalas sms yang kadang tidak penting, menemaninya chatting hingga tengah malam dan menemaninya menikmati hujan. Benar menemaninya duduk berjam-jam di teras rumahnya, menikmati hujan ditemani secangkir coklat.
          Disty memang pecinta hujan sejati, katanya hujan itu romantis, nyanyian paling merdu dan karena hujan dapat memahami arti kata rindu secara jujur. Aku tertawa mendengar alasan kenapa Dia begitu menyukai hujan. Dan kini sejak kehilangan Dia aku pun menyukai hujan, dan aku mengerti kenapa ia pernah mengatakan bahwa hujan memahami betul apa itu rindu.
          Aku memangilnya dengan D Mbuletku, ya karena dia teramat mbulet. Aku dipaksanya untuk mengikuti semua permainannya dengan menggantungkan hubungan tidak jelas ini. Kami berteman tapi mengapa kami saling mengucap rindu, kami berteman tapi mengapa kami saling bergantung? Merasa sepi ketika sehari saja tak mendengar suara diantara kami.
          “ Kenapa D tidak pernah menjawab pertanyaanku ? Kenapa D tidak mau pacaran denganku ? Apa yang salah dengan hubungan kita ? apa yang membuatmu ragu D? “ tanyaku siang itu.
          “ ...”
          “ Kenapa diam? beri aku kepastian D. Aku tulus mencintaimu, tak bisakah kamu menberiku kesempatan D? Setidaknya berikan aku alasan kenapa aku harus bersabar dengan semua ini? “ kataku, suaraku tercekat berusaha menyembunyikan perihku.
          “ Sudahlah W...kita bahas yang lain saja ya, D gak mau bahas ini. Sudah sering D katakan, bagi D ini sudah cukup W. Hubungan seperti ini “ katanya pelan.
          Aku diam tak menjawab, dari suaranya jelas ia akan menangis.
          “ W...kok diam sih, marah ya? “ rajuknya, dan kini dia menangis.
          “ D “
          “ W “
          “ D “
          “ W “ dan aku semakin jelas mendengar tangisnya.
          “ Iya kita bahas yang lain saja “ dan selalu aku mengalah. Selalu menerima digantung. Sampai kapan aku berlari mengejarmu D?.
...
          Siang itu aku tebangun dengan dering handphoneku yang bernyanyi lagu andai ku tahu milik Ungu. Di layar handphoneku terpampang nama MbuletQ, aku menjawab dengan suara serak khas orang bangun tidur.
          “ W..” suaranya menahan tangis.
          “ Ya, ada apa D “ tanyaku khawatir.
          “ Hiks “
          “ D, kenapa? Kok nangis “ tanyaku khawatir. D bukannya berhenti menangis, dia malah menangis. Aku diam, menunggunya bercerita kenapa ia tiba-tiba mengagetkanku dengan tangisannya.
          “...”
          Setelah hampir sepuluh menit aku hanya diam mendengarkan tangisnya akhirnya aku menyelah tangisnya.
          “ D sekarang ada dimana ? aku kesana ya? “
          “ Aku dirumah. “
          Tanpa menunggu nanti Aku segera meluncur kerumahnya yang berada di daerah Mertojoyo, siang itu hujan belum juga reda tak mengurangi niatku untuk menemui Disty. Aku yakin dia butuh teman.
          Disty masih menyimpan tangis ketika aku sampai dirumahnya, dia hanya diam duduk disebelahku. Bahkan ketika menyerahkan handuk untuk megeringkan rambut dan tubuhku yang basah karena hujan ia tak berkata sekecap pun.
          Sepi, dan selalu seperti ini.
          “ Ada apa sebenarnya D ? “ tanyaku lembut, berharap ia melunak dan mau bicara padaku. Tapi aku gagal, D tetap bungkam. Dan aku pun ikut diam. Sampai teh yang dihidangkannya sudah dingin, ia tak juga bicara.
          “ W, D capek..” katanya tiba-tiba.
          “ Eh, capek? kenapa ? “ tanyaku tak mengerti.
          “ Jangan bersikap seperti ini dengan D ya? D benar-benar capek. D, gak mau seperti ini. D gak mau W bersikap seperti ini terus kepada D “ ucapnya dengan isak.
          “ Maksud D ? “ aku tak mengerti.
          “ Jangan buat D cinta dengan W, D gak mau “ katanya seraya menggeleng.
          “ D..” aku meraih tangannya, dan menggengamnya erat.
          “ D, sayang W bahkan cinta. Tapi itu gak mungkin, jangan bebani D dengan cinta W, perhatian W kepada D. Hal ini bikin D sedih. D gak mungkin bisa menerima itu semua W. Pergi W, hati W terlalu sempurna buat D “ katanya cepat, menyaingi air matanya yang deras mengalir. Wajahnya sudah ditenggelamkan dalam bantal sofa ruang tamunya.
          “ Apa aku salah mencintaimu D ? “ tanyaku.
          “ ... “
          “ Apa yang salah D? apakah aku tak punya hak untuk mencintaimu, apakah semua ini kesalahan? jawab D? lalu aku harus bagaimana agar kamu  cukup mengerti, bahwa aku tak mungkin hidup tanpamu. Dan aku tak perlu memberi alasan kenapa aku begitu mencintaimu D, bagiku D adalah hidupku. Jangan bersikap seperti ini. D boleh kok marah, memukulku, atau apapun asal jangan menyuruhku pergi D“ jelasku.
          “ Tidak, W gak boleh seperti itu..” Disty menggeleng. Air matanya deras menetes. Aku mengambil tissue yang ada dan di meja memberikan kepadanya.
          “ Lalu, D mau aku harus bagaimana? “ tanyaku pelan.
          Disty hanya diam, tanganya sibuk menghapus air matanya. Sungguh aku benci pemandangan ini. Disty mengangkat wajahnya. “ D ingin W jangan menemui D lagi, pergi W. D hanya dapat memberi sayang bukan cinta “
          “ ... “
          “ D, mohon W...D, terlalu...m...” ragu ia berkata, “ terlalu mencintai W..”
          “ Kalau perasaan kita sama, kenapa D menyuruh aku untuk menjauhi D ? “
          Disty tak menjawab, hanya diam. Aku paksapun ia tak menjawab. Hatiku remuk redam, sakit. Sore itu setelah hampir satu jam hanya berdiam duduk disamping Disty aku memutuskan untuk pulang. Waktu itu hujan aku meninggalkan rumahnya, hari itu adalah pertemuan terakhirku dengan Disty. Tak ada lagi telpon, sms, dan chatting tengah malam. Tak ada lagi yang mengomeliku ketika aku telat bangun pagi, tak ada yang merajuk manja agar ditemani melihat hujan diteras rumahnya.
          Disty, D, Mbulet adalah penggalan eposide termanis dalam hidupku. Tak genap satu tahun kami bersama. Hingga hari ini aku tak mengerti kenapa ia tak mau menerimaku meski kami saling mencintai. Seperti apapun Disty, aku tak akan pernah berhenti untuk mencintainya.
         
Pasuruan, 29 November 2011


                  


Tidak ada komentar:

Posting Komentar